Menurut Ulama' ahlu sunnah waljamaah:" kebaikan dan keburukan berasal dari Alloh. Alloh memberikan kebaikan kepada manusia sebagai anugrah atas kebajikan yg mereka usahakan. Alloh memberi keburukan kepada manusia sebagai keadilan atas kejelekan yg mereka usahakan. Akan tetapi para spesies syiah oon 12 menyalahkan pendapat tersebut. Menurut mereka kebaikan itu datang dari Alloh sedangkan keburukan datangnya dari manusia. Dalil yg mereka gunakan adalah an nisa: 79, artinya:
" Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Alloh dan apa saja keburukan yg kamu peroleh adalah dari dirimu sendiri".
Dg bermodalkan dalil di atas para spesies syiah oon 12 bilang kalo Ulama' ahlu sunnah waljamaah telah mengkufuri ayat di atas. Menurut mereka, mengatakan keburukan datang dari Alloh sama saja tidak mengakui an nisa;79. Begitu kata para spesies syiah oon 12.
Qosim Ibn 'Aly menjawab:
Permasalahan disini sebenarnya tidak terletak pada apakah ulama' ahlu sunah mengingkari an nisa:79 ataukah tidak?. Tidak di situ permasalahannya.
Permasalahan yg sebenarnya sangatlah simpel, sebab terlahir dari sedikit perbedaan. Akan tetapi karena para spesies syiah oon 12 itu sangat sangat cupet akalnya, sangat-sangat kerdil pemikirannya, sangat-sangat cetek ilmunya, sehingga permasalahan yg sebenarnya sangat simpel itu menjadi rumit.
An nisa:79, artinya:
" Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Alloh ....." Di sini tak ada perbedaan pendapat antara ahlu sunnah dan syiah 12. Keduanya sepakat kalo kebaikan datangnya dari Alloh.
Perbedaan pendapat terjadi pada kalimat selanjutnya yaitu:
"....dan apa saja keburukan yg kamu peroleh adalah dari dirimu sendiri....".
Menurut ulama ahlu sunah:"KEBURUKAN YG MENIMPA MANUISA ADALAH DARI OLEH SEBAB APA YG MEREKA USAHAKAN. Dg kata lain kejelekan yg di usahakan oleh manusia itu menjadi penyebab datangnya keburukan dari Alloh. Ini sesuai dg Al-a'rof: 96, artinya:"....Tetapi mereka mendustakan (ayat2 kami) itu, MAKA KAMI SIKSA MEREKA OLEH SEBAB USAHA MEREKA..." . Hal senada juga di jelaskan dalm ayat-ayat berikut:Fhushshilat:17, Yunus:27 dan 52, Al a'rof: 39, Asy-syu'aro': 30, Al-an'am:70.
Sebagai contoh adalah keburukan yg menimpa kaum Nuh. Merka di landa banjir bandang. Siapa yg mendatangkan banjir itu?.... Alloh. Itulah jawabannya. Dg kata lain KEBURUKAN ITU DARI ALLOH. Mengapa Alloh mendatangkan banjir bandang?.... Sebab APA YANG TELAH DI USAHAKAN OLEH KAUM NUH.
Sedangkan menurut para Spesies syiah oon 12 :" KEBURUKAN YG MENIMPA MANUSIA ADALAH DARI DIRI MEREKA SENDIRI".
Jadi, KEBURUKAN YG MENIMPA KAUM NUH ADALAH DARI DIRI MEREKA SENDIRI". Dg kata lain, kaum Nabi nuh mendatangkan banjir untuk meninggalkan diri mereka sendiri. Ini sangat sangat sangat tidak masuk aka!!!!!!!!!!l. Bagaimana mungkin kaum Nuh itu mendatangkan KEBURUKAN BENCANA BANJIR BANDANG untuk menenggelamkan diri meeka sendiri?
Di samping tidak masuk akal pendapat spesies syiah oon 12 juga bertentangan dg surat An nisa': 78, yg artinya:" Dan jika mereka (orang 2 munafik) memperoleh kebaikan mereka mengatakan:" Ini dari sisi Alloh". Dan jika mereka di timpa sUatu bencana, mereka mengatakan:ini datangnya dari sisi kamu. Katakanlah:" SEMUANYA DATANG DARI ALLOH". Maka mengapa orang2 itu hampir hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?".
Jadi menurut orang2 munafik:" kebaikan itu datang dari Alloh. Sedangkan KEBURUKAN ITU DATANG DARI MANUSIA". Sama persis seperti pendapatnya para spesies syiah oon 12.
Akan tetapi Alloh Swt memerintah orang2 beriman untuk mengatakan:" KEBAIKAn DAN KEBURUKAN DATANGNYA DARI ALLOH.
Sama persis dengan pendapatnya Ulama ahlu sunnah waljamaah. Dg kata lain mereka NDEREK DAWOHE GUSTI ALLOH.
Sekarang silahkan anda mau pilih ikut yg mana?... Ikut ulama' ahlu sunah yg nderek dawohe gusti Alloh atau ikut para spesies syiah oon 12 yg sepakat dg pendapatnya orang2 munafik?.....
Sunday, 8 January 2012
Monday, 12 December 2011
Sikap Ahlulbait Nabi Terhadap Abubakar As Shiddiq 1
Akan kami beberkan sikap ahlulbait terhadap orang yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai orang yang menemani Rasulullah dalam Gua saat pengejaran. Dalam hal ini, Ali anak paman Rasulullah dan menantunya, menyatakan tentang pembai'atan Abubakar setelah wafatnya Rasulullah.
"Saat itu aku datangi Abubakar dan membai'atnya. Akupun bangkit membela Abubakar menghadapi segala kejadian yang mengancam situasi ummat, hingga terkikis tuntas semua penyelewengan. Kalimat Allah tetap terjunjung walaupun dibenci oleh kaum kafir. Abubakar telah berhasil menguasai situasi dengan mudah. Ummat kian bersatu. Kesejahteraan kian membaik. Aku selalu mendampingi dan menasehatinya. Aku pun patuh demi kepatuhanku kepada Allah dan tidak berhenti pula berjuang." [i]
Surat Ali yang dikirim kepada Gubernur Mesir, Qays bin Saad bin Ubadah al-Anshaar berbunyi :
"Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah Ali Amirulmu'minin kepada yang akan menyampaikan isi suratku kepada kaum muslimin, assalamu'alaikum. Aku bersyukur bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ammaa ba'du. Sesungguhnya Allah dengan keindahan ciptaanNya, kodrat dan kecermatanNya telah memilih Islam sebagai agama Allah, para malaikat dan para rasulNya. Allah telah mengutus para Rasul untuk hamba-hambaNya, sebagai pilihan dari semua makhluk-Nya. Allah telah memberi penghargaan kepada ummat manusia dengan mengutus Muhammad SAW guna mengajarkan Al-Qur'an, hikmah, assunnah dan berbagai kewajiban. Mereka telah dididik untuk memperoleh hidayah. Mereka dipersatukan agar tidak terpecah-belah. Mereka dianjurkan untuk senantiasa dalam keadaan suci-bersih. Setelah beliau menyelesaikan tugasnya, Allah telah mengangkat beliau kembali ke haribaanNya. Setelah itu kaum muslimin mengangkat berturut-turut dua orang khalifah yang saleh, mengamalkan ajaran Al-Qur'an, terpuji perilakunya dan tidak pernah menyimpang dari sunnah RasulNya. Kemudian kedua orang ini dipanggil Allah pula kepangkuan rahmat-Nya." [ii]
Tentang peri hidup Abubakar Ash-Shiddiq ia mengatakan
"Setelah wafatnya Muhammad, ummat Islam telah memilih seorang pemimpin yang berasal dari mereka sendiri. Ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya dengan sungguh-sungguh dan rasa taqwa kepada Allah." [iii]
Pada saat ummat memilih Abubakar sebagai khalifah dan pemimpin mereka, Al-Murtadho dan Zubeir ibnu Awwam (putera bibi Rasul Saw) menyatakan :
"Kami berpendapat bahwa Abubakar lah yang paling berhak untuk memangku jabatan ini. Beliau sebagai orang yang bersama-sama Rasulullah dalam Gua. Kami mengenal betul pengabdiannya dan perjuangannya. Ia pun telah diperintah oleh Rasulullah untuk mengimami shalat saat Rasulullah masih hidup." [iv]
Ini berarti bahwa khilafah Abubakar itu mendapat restu Rasulullah. Ali bin Abi Thalib pun senada dengan itu membantah Abi Sufyan yang berambisi sebagai calon khalifah menyaingi Abubakar, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Abil Hadid :
"Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan 'Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendukung sebanyak-banyaknya'. Kemudian Ali menjawab : 'Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada gunanya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam." [v]
Telah dikisahkan pula oleh Assayyid Murtadho dalam kitabnya, bahwa telah diriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad berdasarkan kisah ayahnya, telah menghadap seorang Quraisy kepada Ali bin Abi Thalib dan mengatakan : "Telah kudengar dari khutbahmu tadi sebuah do'a yang berbunyi 'Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan sebagaimana yang pernah Kau berikan kepada dua orang khalifah arraasyidiin sebelum aku. Siapakah gerangan dua orang yang kau maksud itu ?" Ali menjawab : "Mereka adalah kesayanganku. Ia adalah pamanmu Abubakar dan Umar. Mereka adalah imam yang bijaksana. Keduanya adalah tokoh utama Islam dan bangsa Quraisy, dan tidak pernah menyimpang dari ajaran Rasulullah. Barangsiapa yang mengikuti jejak mereka, akan selamatlah dalam perjalanan meniti jalan yang lurus.".
Telah ditegaskan pula pidato Ali dalam kitab tersebut yang menyatakan : "Orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abubakar dan Umar."
Mengapa tidak dikatakan kisah yang juga dirawikan : "Di saat kami bersama-sama Nabi di gua Hiraa, tiba-tiba gunung-gunung itu bergerak, lalu beliau bersabda : Berhentilah, tiada yang lain bagimu kecuali Nabi, Siddiq dan Syahid (Umar)." [vi]
Kisah-kisah tersebut merupakan pandangan Ali terhadap Abubakar. Pandangan seorang Khalifah keempat bagi kita, dan imam Ma'sum pertama bagi Syi'ah, golongan yang menyatakan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Ali sesudah Rasulullah adalah Kafir. Seperti yang mereka nyatakan:
"Pendukungnya akan selamat, sedangkan penentangnya adalah kafir dan celaka. Dan yang mendukung selain Ali adalah sesat dan musyrik." [vii]
Imam-imam Syi'ah telah pula menetapkan :
"Allah tidak akan menerima suatu kaum yang menyeleweng dari ajaran mereka di hari kiamat nanti, sungguh demi Pemelihara Ka'bah." [viii]
Seharusnya golongan Syi'ah itu mengikuti jejak Ali dan anak-anaknya. Sikapnya terhadap para sahabat Rasulullah, terutama sahabat Rasul yang bersama-sama dalam Gua (Abubakar) semestinya pun sama pula dengan sikap yang dinyatakan oleh tokoh utama Ahlulbait, Ali bin Abi Thalib, seperti yang tertulis dalam buku-buku golongan Syi'ah itu sendiri.
Ucapan demikian seringkali diulang Ali dan seringkali pula dikutip oleh kitab-kitab Syi'ah, bahwa Ali menganggap Abubakar layak sebagai khalifah. Dan beliau lebih banyak berhak menduduki jabatan itu karena kebijakan dan peri hidupnya yang luhur. Hingga saat akhir hayat beliau akibat tikaman Ibnu Maljam, beliau sempat ditanya siapakah gerangan khalifah yang akan menggantikannya. Kisah yang diriwayatkan Abi Wa'il dan Al-Hakim, pada saat itu Ali bin Abi Thalib ditanya : Tidak berwasiatkah anda ? Lalu Ali menjawab : "Aku wasiatkan apa yang pernah diwasiatkan Rasulullah. Pesan beliau adalah : Apabila Allah menghendaki kebaikan, maka Allah akan mempercepat mereka untuk memilih orang yang terbaik setelah NabiNya." [ix]
Telah dikisahkan pula seperti kejadian itu oleh Ilmul Huda pada kitab golongan Syi'ah Asy-Syafi :
"Dari Amirul Mu'minin AS saat beliau ditanya : Tidak berwasiatkah anda ? Ali menjawab : 'Aku akan berwasiat sebagaimana yang pernah diwasiatkan Rasulullah. Dan beliau mengatakan, apabila Allah menghendaki kebaikan bagi ummatNya, maka mereka akan bersepakat untuk memilih orang yang terbaik dari mereka, sebagaimana yang pernah mereka lakukan setelah wafatnya nabinya." [x]
Jelas sekali Ali bin Abi Thalib berkeinginan agar para pengikut dan pendukungnya memilih seseorang yang baik dan saleh demi kejayaan ummat Islam. Sebagaimana pula setelah wafatnya nabi, para sahabat telah berhasil memilih salah seorang sahabat yang terbaik.
yaitu Abubakar As Siddiq sebagai pemimpin Islam. Beliau adalah tokoh Islam dan seorang Quraisy yang senantiasa mencontoh apa yang telah dirintis oleh Rasulullah.
[i] Al-Ghoroot, juz I, hal, 307.
[ii] Al-Ghoroot, juz I, hal, 210. Juga dalam Naasikh Attawaarikh, juz Ill, haL 241, cetakan Iran. Dan juga dalam "Majma'ul Bihaar" karya Al-Majlisi
[iii] Syarh Nahjul Balaghah, karya Al-Bahrani haL 400.
[iv] Syarah Nahjul Balaghah, karya Ibnu Abil Hadid Asy-Syii'i, Juz I hal. 332.
[v] Syarah Ibnu Abdil Hadid, juz I hal. 130. Nama lengkapnya Izzuddin Abdulhamid bin Abil Hasan bin Abil Hadid Al-Madaa'ini, penulis kitab syarah Nahjul Balaghah terdiri dari 20 juz. Ia termasuk ulama Syi'ah golongan ghulat yang ekstrim. Data tentang dirinya dapat dibaca dalam Raudhatul Jannaat juz V hal. 20 dan 30.
[vi] Talkhis Asy-Syaafi, karya Attousi juz II hal. 372 cetakan Negev.
[vii] Al-Ihtijaaj, karya At-Thobrusi.
[viii] "Firoqusy Syi'ah", karya Naubakhti, haL 41 cat. Nejev 1951.
Dan dalam Tafsir Al-Qummi, juz I, hal, 156, Nejev.
[ix] Kitab Arraudhah minal kaafi, karya Kulaini, juz VIII hal, 254.
[x] Asy-Syaafi, haL 171 cetakan Negev. Nama lengkap pengarangnya adalah Ali bin Al-Husein bin Musa yang dikenal dengan nama Sayyid Al-Murtadho dengan julukan Ilmul Huda (perintis ilmu). Lahir tahun 436 H. Ia termasuk salah satu tonggak pendiri aliran Syi'ah. Golongan Syi'ah berkelebihan menyanjungnya dan menyanjung adiknya Syarif Ridha pengarang Nahjul Balaghah. Al-Khawansari berkata : Satu-satunya ulama yang brillian di zamannya. Ia merupakan ahli ilmu kalam dan syair. Karya-karyanya tiada seorangpun yang mampu menandinginya. Antara lain Kitaab Asy-Syaafi dalam masalah imamah. Ia sepadan dengan nama bukunya. (Raudhatul Jannaat juz IV haL 295). Dalam kitab Al-Kunni Wal Al-qoob, AlQummi telah memujinya juga.
"Saat itu aku datangi Abubakar dan membai'atnya. Akupun bangkit membela Abubakar menghadapi segala kejadian yang mengancam situasi ummat, hingga terkikis tuntas semua penyelewengan. Kalimat Allah tetap terjunjung walaupun dibenci oleh kaum kafir. Abubakar telah berhasil menguasai situasi dengan mudah. Ummat kian bersatu. Kesejahteraan kian membaik. Aku selalu mendampingi dan menasehatinya. Aku pun patuh demi kepatuhanku kepada Allah dan tidak berhenti pula berjuang." [i]
Surat Ali yang dikirim kepada Gubernur Mesir, Qays bin Saad bin Ubadah al-Anshaar berbunyi :
"Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah Ali Amirulmu'minin kepada yang akan menyampaikan isi suratku kepada kaum muslimin, assalamu'alaikum. Aku bersyukur bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ammaa ba'du. Sesungguhnya Allah dengan keindahan ciptaanNya, kodrat dan kecermatanNya telah memilih Islam sebagai agama Allah, para malaikat dan para rasulNya. Allah telah mengutus para Rasul untuk hamba-hambaNya, sebagai pilihan dari semua makhluk-Nya. Allah telah memberi penghargaan kepada ummat manusia dengan mengutus Muhammad SAW guna mengajarkan Al-Qur'an, hikmah, assunnah dan berbagai kewajiban. Mereka telah dididik untuk memperoleh hidayah. Mereka dipersatukan agar tidak terpecah-belah. Mereka dianjurkan untuk senantiasa dalam keadaan suci-bersih. Setelah beliau menyelesaikan tugasnya, Allah telah mengangkat beliau kembali ke haribaanNya. Setelah itu kaum muslimin mengangkat berturut-turut dua orang khalifah yang saleh, mengamalkan ajaran Al-Qur'an, terpuji perilakunya dan tidak pernah menyimpang dari sunnah RasulNya. Kemudian kedua orang ini dipanggil Allah pula kepangkuan rahmat-Nya." [ii]
Tentang peri hidup Abubakar Ash-Shiddiq ia mengatakan
"Setelah wafatnya Muhammad, ummat Islam telah memilih seorang pemimpin yang berasal dari mereka sendiri. Ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya dengan sungguh-sungguh dan rasa taqwa kepada Allah." [iii]
Pada saat ummat memilih Abubakar sebagai khalifah dan pemimpin mereka, Al-Murtadho dan Zubeir ibnu Awwam (putera bibi Rasul Saw) menyatakan :
"Kami berpendapat bahwa Abubakar lah yang paling berhak untuk memangku jabatan ini. Beliau sebagai orang yang bersama-sama Rasulullah dalam Gua. Kami mengenal betul pengabdiannya dan perjuangannya. Ia pun telah diperintah oleh Rasulullah untuk mengimami shalat saat Rasulullah masih hidup." [iv]
Ini berarti bahwa khilafah Abubakar itu mendapat restu Rasulullah. Ali bin Abi Thalib pun senada dengan itu membantah Abi Sufyan yang berambisi sebagai calon khalifah menyaingi Abubakar, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Abil Hadid :
"Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan 'Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendukung sebanyak-banyaknya'. Kemudian Ali menjawab : 'Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada gunanya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam." [v]
Telah dikisahkan pula oleh Assayyid Murtadho dalam kitabnya, bahwa telah diriwayatkan dari Ja'far bin Muhammad berdasarkan kisah ayahnya, telah menghadap seorang Quraisy kepada Ali bin Abi Thalib dan mengatakan : "Telah kudengar dari khutbahmu tadi sebuah do'a yang berbunyi 'Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan sebagaimana yang pernah Kau berikan kepada dua orang khalifah arraasyidiin sebelum aku. Siapakah gerangan dua orang yang kau maksud itu ?" Ali menjawab : "Mereka adalah kesayanganku. Ia adalah pamanmu Abubakar dan Umar. Mereka adalah imam yang bijaksana. Keduanya adalah tokoh utama Islam dan bangsa Quraisy, dan tidak pernah menyimpang dari ajaran Rasulullah. Barangsiapa yang mengikuti jejak mereka, akan selamatlah dalam perjalanan meniti jalan yang lurus.".
Telah ditegaskan pula pidato Ali dalam kitab tersebut yang menyatakan : "Orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abubakar dan Umar."
Mengapa tidak dikatakan kisah yang juga dirawikan : "Di saat kami bersama-sama Nabi di gua Hiraa, tiba-tiba gunung-gunung itu bergerak, lalu beliau bersabda : Berhentilah, tiada yang lain bagimu kecuali Nabi, Siddiq dan Syahid (Umar)." [vi]
Kisah-kisah tersebut merupakan pandangan Ali terhadap Abubakar. Pandangan seorang Khalifah keempat bagi kita, dan imam Ma'sum pertama bagi Syi'ah, golongan yang menyatakan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Ali sesudah Rasulullah adalah Kafir. Seperti yang mereka nyatakan:
"Pendukungnya akan selamat, sedangkan penentangnya adalah kafir dan celaka. Dan yang mendukung selain Ali adalah sesat dan musyrik." [vii]
Imam-imam Syi'ah telah pula menetapkan :
"Allah tidak akan menerima suatu kaum yang menyeleweng dari ajaran mereka di hari kiamat nanti, sungguh demi Pemelihara Ka'bah." [viii]
Seharusnya golongan Syi'ah itu mengikuti jejak Ali dan anak-anaknya. Sikapnya terhadap para sahabat Rasulullah, terutama sahabat Rasul yang bersama-sama dalam Gua (Abubakar) semestinya pun sama pula dengan sikap yang dinyatakan oleh tokoh utama Ahlulbait, Ali bin Abi Thalib, seperti yang tertulis dalam buku-buku golongan Syi'ah itu sendiri.
Ucapan demikian seringkali diulang Ali dan seringkali pula dikutip oleh kitab-kitab Syi'ah, bahwa Ali menganggap Abubakar layak sebagai khalifah. Dan beliau lebih banyak berhak menduduki jabatan itu karena kebijakan dan peri hidupnya yang luhur. Hingga saat akhir hayat beliau akibat tikaman Ibnu Maljam, beliau sempat ditanya siapakah gerangan khalifah yang akan menggantikannya. Kisah yang diriwayatkan Abi Wa'il dan Al-Hakim, pada saat itu Ali bin Abi Thalib ditanya : Tidak berwasiatkah anda ? Lalu Ali menjawab : "Aku wasiatkan apa yang pernah diwasiatkan Rasulullah. Pesan beliau adalah : Apabila Allah menghendaki kebaikan, maka Allah akan mempercepat mereka untuk memilih orang yang terbaik setelah NabiNya." [ix]
Telah dikisahkan pula seperti kejadian itu oleh Ilmul Huda pada kitab golongan Syi'ah Asy-Syafi :
"Dari Amirul Mu'minin AS saat beliau ditanya : Tidak berwasiatkah anda ? Ali menjawab : 'Aku akan berwasiat sebagaimana yang pernah diwasiatkan Rasulullah. Dan beliau mengatakan, apabila Allah menghendaki kebaikan bagi ummatNya, maka mereka akan bersepakat untuk memilih orang yang terbaik dari mereka, sebagaimana yang pernah mereka lakukan setelah wafatnya nabinya." [x]
Jelas sekali Ali bin Abi Thalib berkeinginan agar para pengikut dan pendukungnya memilih seseorang yang baik dan saleh demi kejayaan ummat Islam. Sebagaimana pula setelah wafatnya nabi, para sahabat telah berhasil memilih salah seorang sahabat yang terbaik.
yaitu Abubakar As Siddiq sebagai pemimpin Islam. Beliau adalah tokoh Islam dan seorang Quraisy yang senantiasa mencontoh apa yang telah dirintis oleh Rasulullah.
[i] Al-Ghoroot, juz I, hal, 307.
[ii] Al-Ghoroot, juz I, hal, 210. Juga dalam Naasikh Attawaarikh, juz Ill, haL 241, cetakan Iran. Dan juga dalam "Majma'ul Bihaar" karya Al-Majlisi
[iii] Syarh Nahjul Balaghah, karya Al-Bahrani haL 400.
[iv] Syarah Nahjul Balaghah, karya Ibnu Abil Hadid Asy-Syii'i, Juz I hal. 332.
[v] Syarah Ibnu Abdil Hadid, juz I hal. 130. Nama lengkapnya Izzuddin Abdulhamid bin Abil Hasan bin Abil Hadid Al-Madaa'ini, penulis kitab syarah Nahjul Balaghah terdiri dari 20 juz. Ia termasuk ulama Syi'ah golongan ghulat yang ekstrim. Data tentang dirinya dapat dibaca dalam Raudhatul Jannaat juz V hal. 20 dan 30.
[vi] Talkhis Asy-Syaafi, karya Attousi juz II hal. 372 cetakan Negev.
[vii] Al-Ihtijaaj, karya At-Thobrusi.
[viii] "Firoqusy Syi'ah", karya Naubakhti, haL 41 cat. Nejev 1951.
Dan dalam Tafsir Al-Qummi, juz I, hal, 156, Nejev.
[ix] Kitab Arraudhah minal kaafi, karya Kulaini, juz VIII hal, 254.
[x] Asy-Syaafi, haL 171 cetakan Negev. Nama lengkap pengarangnya adalah Ali bin Al-Husein bin Musa yang dikenal dengan nama Sayyid Al-Murtadho dengan julukan Ilmul Huda (perintis ilmu). Lahir tahun 436 H. Ia termasuk salah satu tonggak pendiri aliran Syi'ah. Golongan Syi'ah berkelebihan menyanjungnya dan menyanjung adiknya Syarif Ridha pengarang Nahjul Balaghah. Al-Khawansari berkata : Satu-satunya ulama yang brillian di zamannya. Ia merupakan ahli ilmu kalam dan syair. Karya-karyanya tiada seorangpun yang mampu menandinginya. Antara lain Kitaab Asy-Syaafi dalam masalah imamah. Ia sepadan dengan nama bukunya. (Raudhatul Jannaat juz IV haL 295). Dalam kitab Al-Kunni Wal Al-qoob, AlQummi telah memujinya juga.
KAPANKAH FATIMAH R.A MENUNTUT TANAH FADAK ?
Kapan Fatimah menuntut tanah fadak? Mengapa Fatimah tidak menuntut tanah fadak ke Ali, khalifah yang "sah"? Pertanyaan ini ternyata sering terlewatkan dari pikiran kita.
Banyak cerita yang sering kita dengar, ternyata tidak benar. Kita mesti berpikir lagi tentang ukuran kebenaran sebuah cerita. Ternyata, ukuran bagi kebenaran sebuah cerita bukanlah dari siapa cerita itu kita dengar. Bisa jadi yang menceritakan adalah seorang ustadz yang kondang, atau buku yang dikemas sedemikian rupa agar nampak ilmiyah. Namun belum tentu cerita itu benar. Salah satunya adalah cerita pemukulan Fatimah, yang konon mengakibatkan rusuknya patah dan janinnya gugur. Kita sebut saja peristiwa ini sebagai “peristiwa tulang rusuk”.
Apakah kita masih perlu membahas peristiwa tulang rusuk? Bukankah peristiwa itu sudah terjadi di masa lalu, dan pembahasan kita hari ini tidak akan merubah peristiwa itu? Mestinya ada pertanyaan lain yang lebih mendasar, dan lebih penting untuk dipertanyakan, yaitu: apakah peristiwa tulang rusuk benar-benar terjadi? Apakah kisah itu masih relevan untuk kita bahas hari ini? Nyatanya kisah itu masih menjadi bahasan bagi syi’ah, khususnya ketika memprospek pengikut baru. Dengan tujuan untuk membunuh karakter para sahabat.
Namun jika kita sedikit menggunakan logika, dan meneliti referensi-referensi yang ada, dapat kita temukan dengan mudah kejanggalan-kejanggalan pada peristiwa tulang rusuk. Sebenarnya tidak susah untuk menemukan kejanggalan-kejanggalan ini. Pada beberapa tulisan yang lalu kita membahas peristiwa tulang rusuk ini dari sisi riwayat, yang ternyata tidak ada riwayat yang jelas mengenai detil peristiwa itu, yaitu peristiwa pembakaran rumah, pemukulan terhadap Fatimah dan gugurnya janin. Kita sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa tulang rusuk tercantum dalam banyak riwayat yang saling kontradiktif. Namun kali ini kita akan membahas dari sisi lain, dan akan kita hubungkan dengan peristiwa fadak.
Saat Fatimah meminta haknya atas tanah fadak, dia memohonnya dari Abubakar. Pertanyaannya, apa hubungan Abubakar dengan tanah fadak? Ini yang sampai saat ini tidak jelas. Apakah Abubakar memiliki kekuasaan atas tanah fadak? Apakah Abubakar menduduki tanah fadak dan menggunakan tanah itu untuk keperluan pribadinya? Atau ada alasan lain? Mengapa Fatimah meminta fadak pada Abubakar? Riwayat-riwayat yang ada –sepanjang pengetahuan saya- tidak menjelaskan alasan Fatimah. Di sisi lain, pembaca perlu ingat bahwa Abubakar telah diangkat menjadi khalifah oleh sahabat Nabi, termasuk Ali sendiri ikut membaiat Abubakar.
Ini bisa dipahami sebagai suatu bentuk pengakuan bahwa Abubakar adalah pimpinan kaum muslimin, yang berkompeten mengurus hal ihwal kaum muslimin. Kita sendiri, jika ingin mengurus suatu urusan, menuju kantor yang berkompeten, untuk bertemu orang yang berkompeten dalam urusan kita. Kita tidak menghadap ke KUA untuk mengurus SIM. Teman-teman kita yang ingin menikah tidak akan pergi menuju kantor pajak. Pergi ke kantor pajak untuk menikah adalah perbuatan yang tidak dilakukan oleh manusia normal hari ini. Sementara Fatimah merupakan figur yang maksum –menurut syiah hari ini-, yang mencakup pengertian tidak pernah lupa, keliru, dan berbuat kesalahan. Fatimah menghadap Abubakar sebelum Ali berbaiat, karena dalam kisah disebutkan bahwa Ali –yang konon gagah berani- dipaksa dan diseret untuk berbaiat pada Abubakar. Fatimah menghadap Abubakar sebelum dirinya dipukul hingga tulang rusuknya patah, janinnya gugur dan tidak keluar rumah sampai wafatnya –menurut riwayat syiah-.
Jika memang Fatimah benar-benar maksum, terbebas dari salah dan lupa, maka tidak akan salah langkah. Pertanyaannya, mengapa Fatimah tidak menghadap Ali sebagai pemegang tampuk imamah kaum muslimin? Malah menghadap ke Abubakar yang dalam pandangan syiah adalah imam yang merampok jabatan Ali? Atau ada kemungkinan lain, yaitu Fatimah menghadap Abubakar karena tahu bahwa Ali telah berbaiat pada Abubakar, hingga Fatimah mengikuti suaminya dan mengakui Abubakar sebagai khalifah, yang juga telah dibaiat oleh imam Ali yang -konon- imam yang diberi mandat oleh Allah.
Jika memanga Ali telah berbaiat, maka untuk apa rumah Ali diserang, Fatimah dipukuli hingga tulang rusuknya patah, dan janinnya gugur? Padahal penyerangan terhadap rumah Fatimah bertujuan memaksa Ali untuk berbaiat.
Fatimah memiliki keberanian untuk menuntut haknya atas tanah fadak, atas keyakinan bahwa fadak adalah miliknya. Fatimah tidak takut persatuan kaum muslimin tidak akan goncang ketika dia menuntut tanah fadak. Namun Ali diam saja dan tidak melakukan apa-apa ketika amanat kenabian, ketika jabatan imamah dirampas oleh Abubakar. Sedangkan amanat dan wasiat Nabi sudah pasti lebih berharga dari sekedar tanah fadak. Lalu yang kita heran, mengapa Fatimah menuntut sebidang tanah, lalu tidak menggugat dan menuntut Abubakar karena merampas imamah? Apakah tanah fadak sudah sedemikian lebih berharga dibanding jabatan imamah yang diwasiatkan pada Ali
Siapa yang benar? Ali atau Fatimah?
Jika Fatimah pergi menghadap Abubakar setelah “peristiwa tulang rusuk” maka anggapan bahwa Fatimah wafat akibat tulang rusuknya patah adalah sebuah kebohongan, karena bagaimana Fatimah bisa keluar dari rumah, pergi sendirian –tanpa ditemani oleh Ali- menghadap Abubakar untuk menuntut tanah fadak, padahal tulang rusuknya patah, keguguran, dan sakit keras hingga tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendirian, hingga Ali terpaksa menemani Fatimah di rumahnya. Sedangkan menurut syi’ah, Fatimah tidak keluar rumah setelah peristiwa tulang rusuk, karena sakit, hingga wafatnya. Ada hal lain yang perlu kita pikirkan kembali, yaitu tentang malaikat Jibril yang mengunjungi Fatimah setelah Nabi wafat.
Dari Ibnu Riab dar Abu Auabidah dari Abu Abdullah mengatakan : Fatimah hidup setelah ayahnya selama 75 hari, dengan menyimpan rasa sedih yang sangat karena ditinggal ayahnya, dan Jibril menunjungi Fatimah, menghiburnya dari kesedihan, serta memberitahukan tempat ayahnya di akherat, juga memberitahu apa yang kelak akan terjadi paa keturunannya, lalu Ali menulis semua itu, itulah mushaf fatimah. Biharul anwar jilid 22 hal 545
Sementara Kulaini meriwayatkan dari Imam As Shadiq, bahwa setelah Nabi wafat ada malaikat yang berbicara dengan Fatimah, dan menghibur kesedihannya, lalu Fatimah memberitahukan pada Ali tentang hal itu, lalu Ali berkata: jika engkau merasakan kedatangannya, dan mendengar suara, beritahukan padaku, lalu Fatimah memberitahu Ali tentang kedatangan malaikat, lalu Ali menulis seluruh apa yang didengar dari malaikat dan dijadikan sebuah mushaf, lalu berkata: di dalamnya tidak ada mengenai halal dan haram, tetapi terdapat pengetahuan tentang apa yang akan terjadi
Al Kafi jilid 1 hal 240, Bashair Darajat hal 157, Biharul Anwar jilid 26 hal 44, jilid 43 hal 80, jilid 22 hal 45. Al Majlisi menyatakan riwayat ini shahih, dalam Mir’atul Uqul jilid 3 hal 59, jilid 5 hal 314
Ini artinya Jibril datang untuk menghibur fatimah dan meringankan kesedihannya, di sini pertanyaan muncul, Apakah menghibur Fatimah lebih penting dari menjaga Fatimah, supaya janinnya tidak gugur dan tulang rusuknya tidak patah?
Pertanyaan lain, jika memang Ali menulis dialog antara malaikat Jibril dengan Fatimah, apakah Ali menuliskan wahyu dari jibril tentang peristiwa tulang rusuk dan janinnya yang gugur, serta rumahnya yang dibakar para sahabat, ataukah malaikat Jibril memang tidak memperhatikan itu semua, dan sama sekali tidak membahas peristiwa tulang rusuk?
Apakah Ali tidak menuliskan wahyu tentang dialog yang terjadi antara Fatimah dan Abubakar?
Dalam kitab Al Hujum Ala Baiti Fatimah, Abduzzahra Mahdi hal 281-282
Fatimah keluar membawa surat dari Abubakar, lalu bertemu Umar, Umar bertanya: surat apa yang engkau bawa? Jawab Fatimah: surat dari Abubakar untuk mengembalikan fadak padaku. Umar berkata : serahkan padaku, Fatimah enggan menyerahkannya, lalu ditendang oleh Umar, saat itu fatimah sedang mengandung janin laki-laki yang diberi nama muhsin, lalu janin muhsin pun gugur, Umar menampar fatmah,.. lalu Umar mengambil surat itu dan merobeknya, lalu Fatimah sakit dan tinggal di rumah akibat dipukul Umar, lalu meninggal dunia. Al Ikhtishash hal 185, Biharul Anwar jilid 29 hal 192
Riwayat ini malah mengatakan lain, yaitu Abubakar telah memberikan surat penyerahan tanah fadak pada Fatimah. Lalu mengapa Abubakar selama ini dituduh menghalangi Fatimah untuk mengambil fadak? Memang ada riwayat di shahih Bukhari yang mengatakan demikian, namun mengapa syiah lebih percaya Shahih Bukhari daripada kitabnya sendiri?
Yang jelas juga surat itu telah disobek oleh umar, setelah fatimah keluar dari tempat Abubakar, lalu Umar memukulnya hingga janinnya gugur, dan rusuknya patah. Berarti tidak ada cerita membakar dan mendobrak rumah? Lalu bagaimana? Mana yang benar?
Dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdullah berkata: Fatimah hidup sepeninggal ayahnya selama 75 hari, tidak pernah tersenyum dan tertawa, mendatangi kubur para syuhada setiap minggu dua kali, senin dan kami, lalu berkata: di sini Rasulullah berdiri, di situ tempat kaum musyrikin. Al Kafi jilid 3 hal 229
Riwayat ini dinyatakan shahih dalam Madarikul Ahkam fi Syarhi Ibadat Syara’I’ Al islam jilid 8 hal 472-473, Muhammad bin Ali Al Musawi. Raudhatul Muttaqin Fi Syarh Man La Yahdhuruhul Faqih, jilid 5 hal 341-342, Al Majlisi Al Awwal, Muhammad Taqiy bin Maqsud Ali Al Asfahani.
Kasyful Litsam wal ibham an qawaidil ahkam jilid 6 hal 279-280, Al Fadhil Al Hindi Muhamamd bin Hasan bin Muhammad Al Asbahani.
Al Hadaiq An Nadhirah fi Ahkam Itrah Thahirah jilid 4 hal 170-171
Jawahirul kalam fi Syarhi Syara’I’ Al Islam jilid 20 hal 87-88. Muhammad bin Hasan An Najafi
Muhadzabul Ahkam fi Bayanil Halal wal Haram jilid 5 hal 212-213, Abdul A’la Al Sabzawari., jilid 15 hal 58-59
Madarikul Urwah, Al Isytahardi jilid 14 hal 71-72
Imam Maksum menyatakan bahwa Fatimah berziarah ke kuburan secara teratur selama 75 hari, pada masa sisa hidupnya setelah Nabi wafat, Fatimah tidak tersenyum dan tertawa selama itu,
Banyak pertanyaan – yang susah terjawab- muncul ketika kita menggunakan pikiran kita untuk menelaah.
Bagaimana mungkin,Fatimah yang rusuknya patah, janinnya gugur, tinggal di rumah hingga wafatnya, berziarah kubur secara teratur?
Banyak cerita yang sering kita dengar, ternyata tidak benar. Kita mesti berpikir lagi tentang ukuran kebenaran sebuah cerita. Ternyata, ukuran bagi kebenaran sebuah cerita bukanlah dari siapa cerita itu kita dengar. Bisa jadi yang menceritakan adalah seorang ustadz yang kondang, atau buku yang dikemas sedemikian rupa agar nampak ilmiyah. Namun belum tentu cerita itu benar. Salah satunya adalah cerita pemukulan Fatimah, yang konon mengakibatkan rusuknya patah dan janinnya gugur. Kita sebut saja peristiwa ini sebagai “peristiwa tulang rusuk”.
Apakah kita masih perlu membahas peristiwa tulang rusuk? Bukankah peristiwa itu sudah terjadi di masa lalu, dan pembahasan kita hari ini tidak akan merubah peristiwa itu? Mestinya ada pertanyaan lain yang lebih mendasar, dan lebih penting untuk dipertanyakan, yaitu: apakah peristiwa tulang rusuk benar-benar terjadi? Apakah kisah itu masih relevan untuk kita bahas hari ini? Nyatanya kisah itu masih menjadi bahasan bagi syi’ah, khususnya ketika memprospek pengikut baru. Dengan tujuan untuk membunuh karakter para sahabat.
Namun jika kita sedikit menggunakan logika, dan meneliti referensi-referensi yang ada, dapat kita temukan dengan mudah kejanggalan-kejanggalan pada peristiwa tulang rusuk. Sebenarnya tidak susah untuk menemukan kejanggalan-kejanggalan ini. Pada beberapa tulisan yang lalu kita membahas peristiwa tulang rusuk ini dari sisi riwayat, yang ternyata tidak ada riwayat yang jelas mengenai detil peristiwa itu, yaitu peristiwa pembakaran rumah, pemukulan terhadap Fatimah dan gugurnya janin. Kita sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa tulang rusuk tercantum dalam banyak riwayat yang saling kontradiktif. Namun kali ini kita akan membahas dari sisi lain, dan akan kita hubungkan dengan peristiwa fadak.
Saat Fatimah meminta haknya atas tanah fadak, dia memohonnya dari Abubakar. Pertanyaannya, apa hubungan Abubakar dengan tanah fadak? Ini yang sampai saat ini tidak jelas. Apakah Abubakar memiliki kekuasaan atas tanah fadak? Apakah Abubakar menduduki tanah fadak dan menggunakan tanah itu untuk keperluan pribadinya? Atau ada alasan lain? Mengapa Fatimah meminta fadak pada Abubakar? Riwayat-riwayat yang ada –sepanjang pengetahuan saya- tidak menjelaskan alasan Fatimah. Di sisi lain, pembaca perlu ingat bahwa Abubakar telah diangkat menjadi khalifah oleh sahabat Nabi, termasuk Ali sendiri ikut membaiat Abubakar.
Ini bisa dipahami sebagai suatu bentuk pengakuan bahwa Abubakar adalah pimpinan kaum muslimin, yang berkompeten mengurus hal ihwal kaum muslimin. Kita sendiri, jika ingin mengurus suatu urusan, menuju kantor yang berkompeten, untuk bertemu orang yang berkompeten dalam urusan kita. Kita tidak menghadap ke KUA untuk mengurus SIM. Teman-teman kita yang ingin menikah tidak akan pergi menuju kantor pajak. Pergi ke kantor pajak untuk menikah adalah perbuatan yang tidak dilakukan oleh manusia normal hari ini. Sementara Fatimah merupakan figur yang maksum –menurut syiah hari ini-, yang mencakup pengertian tidak pernah lupa, keliru, dan berbuat kesalahan. Fatimah menghadap Abubakar sebelum Ali berbaiat, karena dalam kisah disebutkan bahwa Ali –yang konon gagah berani- dipaksa dan diseret untuk berbaiat pada Abubakar. Fatimah menghadap Abubakar sebelum dirinya dipukul hingga tulang rusuknya patah, janinnya gugur dan tidak keluar rumah sampai wafatnya –menurut riwayat syiah-.
Jika memang Fatimah benar-benar maksum, terbebas dari salah dan lupa, maka tidak akan salah langkah. Pertanyaannya, mengapa Fatimah tidak menghadap Ali sebagai pemegang tampuk imamah kaum muslimin? Malah menghadap ke Abubakar yang dalam pandangan syiah adalah imam yang merampok jabatan Ali? Atau ada kemungkinan lain, yaitu Fatimah menghadap Abubakar karena tahu bahwa Ali telah berbaiat pada Abubakar, hingga Fatimah mengikuti suaminya dan mengakui Abubakar sebagai khalifah, yang juga telah dibaiat oleh imam Ali yang -konon- imam yang diberi mandat oleh Allah.
Jika memanga Ali telah berbaiat, maka untuk apa rumah Ali diserang, Fatimah dipukuli hingga tulang rusuknya patah, dan janinnya gugur? Padahal penyerangan terhadap rumah Fatimah bertujuan memaksa Ali untuk berbaiat.
Fatimah memiliki keberanian untuk menuntut haknya atas tanah fadak, atas keyakinan bahwa fadak adalah miliknya. Fatimah tidak takut persatuan kaum muslimin tidak akan goncang ketika dia menuntut tanah fadak. Namun Ali diam saja dan tidak melakukan apa-apa ketika amanat kenabian, ketika jabatan imamah dirampas oleh Abubakar. Sedangkan amanat dan wasiat Nabi sudah pasti lebih berharga dari sekedar tanah fadak. Lalu yang kita heran, mengapa Fatimah menuntut sebidang tanah, lalu tidak menggugat dan menuntut Abubakar karena merampas imamah? Apakah tanah fadak sudah sedemikian lebih berharga dibanding jabatan imamah yang diwasiatkan pada Ali
Siapa yang benar? Ali atau Fatimah?
Jika Fatimah pergi menghadap Abubakar setelah “peristiwa tulang rusuk” maka anggapan bahwa Fatimah wafat akibat tulang rusuknya patah adalah sebuah kebohongan, karena bagaimana Fatimah bisa keluar dari rumah, pergi sendirian –tanpa ditemani oleh Ali- menghadap Abubakar untuk menuntut tanah fadak, padahal tulang rusuknya patah, keguguran, dan sakit keras hingga tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendirian, hingga Ali terpaksa menemani Fatimah di rumahnya. Sedangkan menurut syi’ah, Fatimah tidak keluar rumah setelah peristiwa tulang rusuk, karena sakit, hingga wafatnya. Ada hal lain yang perlu kita pikirkan kembali, yaitu tentang malaikat Jibril yang mengunjungi Fatimah setelah Nabi wafat.
Dari Ibnu Riab dar Abu Auabidah dari Abu Abdullah mengatakan : Fatimah hidup setelah ayahnya selama 75 hari, dengan menyimpan rasa sedih yang sangat karena ditinggal ayahnya, dan Jibril menunjungi Fatimah, menghiburnya dari kesedihan, serta memberitahukan tempat ayahnya di akherat, juga memberitahu apa yang kelak akan terjadi paa keturunannya, lalu Ali menulis semua itu, itulah mushaf fatimah. Biharul anwar jilid 22 hal 545
Sementara Kulaini meriwayatkan dari Imam As Shadiq, bahwa setelah Nabi wafat ada malaikat yang berbicara dengan Fatimah, dan menghibur kesedihannya, lalu Fatimah memberitahukan pada Ali tentang hal itu, lalu Ali berkata: jika engkau merasakan kedatangannya, dan mendengar suara, beritahukan padaku, lalu Fatimah memberitahu Ali tentang kedatangan malaikat, lalu Ali menulis seluruh apa yang didengar dari malaikat dan dijadikan sebuah mushaf, lalu berkata: di dalamnya tidak ada mengenai halal dan haram, tetapi terdapat pengetahuan tentang apa yang akan terjadi
Al Kafi jilid 1 hal 240, Bashair Darajat hal 157, Biharul Anwar jilid 26 hal 44, jilid 43 hal 80, jilid 22 hal 45. Al Majlisi menyatakan riwayat ini shahih, dalam Mir’atul Uqul jilid 3 hal 59, jilid 5 hal 314
Ini artinya Jibril datang untuk menghibur fatimah dan meringankan kesedihannya, di sini pertanyaan muncul, Apakah menghibur Fatimah lebih penting dari menjaga Fatimah, supaya janinnya tidak gugur dan tulang rusuknya tidak patah?
Pertanyaan lain, jika memang Ali menulis dialog antara malaikat Jibril dengan Fatimah, apakah Ali menuliskan wahyu dari jibril tentang peristiwa tulang rusuk dan janinnya yang gugur, serta rumahnya yang dibakar para sahabat, ataukah malaikat Jibril memang tidak memperhatikan itu semua, dan sama sekali tidak membahas peristiwa tulang rusuk?
Apakah Ali tidak menuliskan wahyu tentang dialog yang terjadi antara Fatimah dan Abubakar?
Dalam kitab Al Hujum Ala Baiti Fatimah, Abduzzahra Mahdi hal 281-282
Fatimah keluar membawa surat dari Abubakar, lalu bertemu Umar, Umar bertanya: surat apa yang engkau bawa? Jawab Fatimah: surat dari Abubakar untuk mengembalikan fadak padaku. Umar berkata : serahkan padaku, Fatimah enggan menyerahkannya, lalu ditendang oleh Umar, saat itu fatimah sedang mengandung janin laki-laki yang diberi nama muhsin, lalu janin muhsin pun gugur, Umar menampar fatmah,.. lalu Umar mengambil surat itu dan merobeknya, lalu Fatimah sakit dan tinggal di rumah akibat dipukul Umar, lalu meninggal dunia. Al Ikhtishash hal 185, Biharul Anwar jilid 29 hal 192
Riwayat ini malah mengatakan lain, yaitu Abubakar telah memberikan surat penyerahan tanah fadak pada Fatimah. Lalu mengapa Abubakar selama ini dituduh menghalangi Fatimah untuk mengambil fadak? Memang ada riwayat di shahih Bukhari yang mengatakan demikian, namun mengapa syiah lebih percaya Shahih Bukhari daripada kitabnya sendiri?
Yang jelas juga surat itu telah disobek oleh umar, setelah fatimah keluar dari tempat Abubakar, lalu Umar memukulnya hingga janinnya gugur, dan rusuknya patah. Berarti tidak ada cerita membakar dan mendobrak rumah? Lalu bagaimana? Mana yang benar?
Dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdullah berkata: Fatimah hidup sepeninggal ayahnya selama 75 hari, tidak pernah tersenyum dan tertawa, mendatangi kubur para syuhada setiap minggu dua kali, senin dan kami, lalu berkata: di sini Rasulullah berdiri, di situ tempat kaum musyrikin. Al Kafi jilid 3 hal 229
Riwayat ini dinyatakan shahih dalam Madarikul Ahkam fi Syarhi Ibadat Syara’I’ Al islam jilid 8 hal 472-473, Muhammad bin Ali Al Musawi. Raudhatul Muttaqin Fi Syarh Man La Yahdhuruhul Faqih, jilid 5 hal 341-342, Al Majlisi Al Awwal, Muhammad Taqiy bin Maqsud Ali Al Asfahani.
Kasyful Litsam wal ibham an qawaidil ahkam jilid 6 hal 279-280, Al Fadhil Al Hindi Muhamamd bin Hasan bin Muhammad Al Asbahani.
Al Hadaiq An Nadhirah fi Ahkam Itrah Thahirah jilid 4 hal 170-171
Jawahirul kalam fi Syarhi Syara’I’ Al Islam jilid 20 hal 87-88. Muhammad bin Hasan An Najafi
Muhadzabul Ahkam fi Bayanil Halal wal Haram jilid 5 hal 212-213, Abdul A’la Al Sabzawari., jilid 15 hal 58-59
Madarikul Urwah, Al Isytahardi jilid 14 hal 71-72
Imam Maksum menyatakan bahwa Fatimah berziarah ke kuburan secara teratur selama 75 hari, pada masa sisa hidupnya setelah Nabi wafat, Fatimah tidak tersenyum dan tertawa selama itu,
Banyak pertanyaan – yang susah terjawab- muncul ketika kita menggunakan pikiran kita untuk menelaah.
Bagaimana mungkin,Fatimah yang rusuknya patah, janinnya gugur, tinggal di rumah hingga wafatnya, berziarah kubur secara teratur?
Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah
Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saling mencintai karena Allah dan dalam urusan Allah. Seorang di antara mereka senantiasa berpikir tentang kebutuhan saudaranya. Memenuhi hak dan menolong adalah sifat mereka. Akan tetapi Rafidhah tidak pernah merasa tenang melainkan dengan merusak dan mengeruhkan suasana persaudaraan yang indah di antara mereka.
Rasa cinta dan bersih hati begitu lekat dengan para sahabat Radhiallahu ‘Anhu, sehingga mereka menjadi perumpamaan yang sangat elok dan abadi. Sebut saja misalnya ketika Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka bersama-sama membantu Ali Radhiallahu ‘Anhu dalam kesuksesan pernikahannya dengan Fathimah Radhiallahu ‘Anha. Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kitab-kitab Syi’ah telah mendokumentasikan fakta sejarah yang menakjubkan ini.
Al-Majlisi, juru bicara Syi’ah dalam soal cela mencela ini ternyata telah menguatkan hal tersebut. Dia meriwayatkan bahwa Abu Bakar bekata kepada Umar dan Sa’ad: “Ayo, mari kita pergi ke Ali ibn Abi Thalib untuk mendorongnya dan memaksanya agar meminta hal tersebut dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yakni menikahi Fathimah), jika dia enggan karena fakirnya kita membantunya untuk itu”. Sa’ad menjawab: “Hebat sekali yang engaku pikirkan”. Akhirnya mereka pergi ke rumah amirul mukminin ‘Alaihi Sallam…..tatkala mereka sampai, dia bertanya: “Apa gerangan yang membuat kalian datang kemari pada saat seperti ini”. Abu Bakar menejelaskan: “Wahai Abu Hasan, tidak ada perkara kebaikan melainkan engkau telah mendahuluinya.….lalu apakah kiranya yang menghalangimu untuk meminta dari Rasullulah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam putrinya yang bernama Fathimah?” Ketika Ali mendengar ucapan itu dari Abu Bakar air matanya berderai dan membasahi pipinya. Dia berkata: “Engkau telah merobek lukaku, engkau telah mengingatkan dan mengobarkan angan-angan dan mimpiku yang telah lama aku sembunyikan. Siapa orang yang tidak ingin mempersuntingnya? Tetapi langkahku tertahan karena kefakiranku, aku merasa malu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika aku mengucapkannya sementara keadaanku seperti ini?”[1]
Maka Abu Bakar dan Umar mengupayakan pernikahannya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyetujui perkawinan ini. Di sini Utsman tidak mau ketinggalan, ia ingin ikut berperan dalam pernikahan ini karena mereka semua adalah bersaudara yang saling mencintai dan mengasihi. Ali menceritakan peristiwanya sendiri: “Ketika aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminang Fathimah beliau berkata, “Juallah baju besimu dan bawalah kemari uangnya, supaya aku bisa menyiapkan untukmu dan untuk putriku Fathimah apa yang membuat kalian bahagia.” Ali berkata: “Aku ambil baju besiku, aku bawa ke pasar dan aku menjualnya dengan harga 400 dirham hajariyah yang hitam kepada Utsman ibn Affan. Setelah uangnya aku pegang dan baju besiku dipegang olehnya dia berkata, “Hai Abul Hasan! Bukankah sekarang aku lebih berhak dengan baju besi ini dari pada dirimu dan engkau lebih berhak dengan uang itu dari pada diriku?” Aku berkata: Ya. Dia berkata, “Sesungguhnya baju besi ini hadiah dariku untukmu.” Lalu aku ambil baju dan uangnya, langsung menuju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesampainya di sana aku letakkan baju dan uangnya di hadapan beliau, lalu aku ceritakan kebaikan Utsman, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendo’akannya dengan kebaikan”.[2] Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima uang dirham itu dengan kedua tangannya dan diberikannya kepada Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dengan mengatakan: “Belikan untuk Fathimah apa yang membuatnya baik, dari pakaian dan perabotan rumah.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyertakan Ammar ibn Yasir dan beberapa sahabatnya untuk menemani Abu Bakar. Di pasar mereka menawar hal-hal yang bagus dan mereka tidak membelinya melainkan setelah menyodorkannya kepada Abu Bakar dan Abu Bakar menganggapnya bagus….setelah pembelian selesai, Abu Bakar membawa sebagian barang dan sisanya dibawa oleh para sahabat lain yang bersamanya”.[3]
Bahkan tidak berhenti sampai di sini. Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu menjadi saksi dalam pernikahan yang diberkahi ini. Anas Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Saya berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau didatangi wahyu, setelah beliau selesai menerima wahyu beliau berkata kepadaku, “Ya Anas! Apakah engkau mengerti apa yang dibawa kepadaku oleh Jibril ‘Alaihi Sallam dari Pemilik Arsy?” Saya berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Saya diperintahkan untuk menikahkan Fathimah dengan Ali. Pergilah dan panggillah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan sebanyak bilangan mereka dari kaum Anshar.”
Anas berkata: “Maka saya berangkat mengundang mereka untuk Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tatkala mereka duduk di majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata –setelah bertahmid kepada Allah- : “Kemudian sesungguhnya aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku telah mengawinkan Fathimah dengan Ali dengan mahar 400 dirham, satu mitsqal perak”.[4]
Apakah kiranya yang akan diucapkan oleh mereka?
Sepertinya kita tidak mendengar suara kalian sama sekali!
Kemudian inilah kalian telah mengakui bahwa pernikahan Fathimah dengan Ali adalah dengan berdasarkan dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah telah memilih Ali untuk Fathimah, yang dia itu putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu bagaimana dengan Nabi sendiri yang diutus oleh Allah, bukankah Allah yang telah memilihkan untuknya istri-istrinya?
Bagaiamana kalian mengakui adanya perintah Allah dalam pernikahan Ali dengan Fathimah sementara kalian mengingkari pernikahan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan putri Abu Bakar, Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Padahal hal itu adalah perintah dan pilihan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala!
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sehingga mereka berusaha mengubah apa yang ada pada mereka.”
==========================================================
[1] Jala’ al-‘Uyun. Jilid I. Hal 169. Cet Kitab Furusyi Islamiyah. Teheran.
[2] Al-Manaqib. Al-Khawarizmi. Hal 235-252. Cet Najef; Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 359; Bihar al-Anwar. Hal 39, 40. Cet Teheran.
[3] Al-Amali. Jilid I. Hal 39; Al-Manaqib. Al-Mazindani. Jilid II. Hal 20. Cet India; Jala’ al-‘Uyun. Jilid I. Hal 176.
[4] Kasyf al-Ghummah. Jild I. Hal 348. Cet. Tibriz; Bihar al-Anwar. Jilid I. Hal 47-48.
Rasa cinta dan bersih hati begitu lekat dengan para sahabat Radhiallahu ‘Anhu, sehingga mereka menjadi perumpamaan yang sangat elok dan abadi. Sebut saja misalnya ketika Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka bersama-sama membantu Ali Radhiallahu ‘Anhu dalam kesuksesan pernikahannya dengan Fathimah Radhiallahu ‘Anha. Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kitab-kitab Syi’ah telah mendokumentasikan fakta sejarah yang menakjubkan ini.
Al-Majlisi, juru bicara Syi’ah dalam soal cela mencela ini ternyata telah menguatkan hal tersebut. Dia meriwayatkan bahwa Abu Bakar bekata kepada Umar dan Sa’ad: “Ayo, mari kita pergi ke Ali ibn Abi Thalib untuk mendorongnya dan memaksanya agar meminta hal tersebut dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yakni menikahi Fathimah), jika dia enggan karena fakirnya kita membantunya untuk itu”. Sa’ad menjawab: “Hebat sekali yang engaku pikirkan”. Akhirnya mereka pergi ke rumah amirul mukminin ‘Alaihi Sallam…..tatkala mereka sampai, dia bertanya: “Apa gerangan yang membuat kalian datang kemari pada saat seperti ini”. Abu Bakar menejelaskan: “Wahai Abu Hasan, tidak ada perkara kebaikan melainkan engkau telah mendahuluinya.….lalu apakah kiranya yang menghalangimu untuk meminta dari Rasullulah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam putrinya yang bernama Fathimah?” Ketika Ali mendengar ucapan itu dari Abu Bakar air matanya berderai dan membasahi pipinya. Dia berkata: “Engkau telah merobek lukaku, engkau telah mengingatkan dan mengobarkan angan-angan dan mimpiku yang telah lama aku sembunyikan. Siapa orang yang tidak ingin mempersuntingnya? Tetapi langkahku tertahan karena kefakiranku, aku merasa malu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika aku mengucapkannya sementara keadaanku seperti ini?”[1]
Maka Abu Bakar dan Umar mengupayakan pernikahannya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyetujui perkawinan ini. Di sini Utsman tidak mau ketinggalan, ia ingin ikut berperan dalam pernikahan ini karena mereka semua adalah bersaudara yang saling mencintai dan mengasihi. Ali menceritakan peristiwanya sendiri: “Ketika aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminang Fathimah beliau berkata, “Juallah baju besimu dan bawalah kemari uangnya, supaya aku bisa menyiapkan untukmu dan untuk putriku Fathimah apa yang membuat kalian bahagia.” Ali berkata: “Aku ambil baju besiku, aku bawa ke pasar dan aku menjualnya dengan harga 400 dirham hajariyah yang hitam kepada Utsman ibn Affan. Setelah uangnya aku pegang dan baju besiku dipegang olehnya dia berkata, “Hai Abul Hasan! Bukankah sekarang aku lebih berhak dengan baju besi ini dari pada dirimu dan engkau lebih berhak dengan uang itu dari pada diriku?” Aku berkata: Ya. Dia berkata, “Sesungguhnya baju besi ini hadiah dariku untukmu.” Lalu aku ambil baju dan uangnya, langsung menuju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesampainya di sana aku letakkan baju dan uangnya di hadapan beliau, lalu aku ceritakan kebaikan Utsman, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendo’akannya dengan kebaikan”.[2] Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima uang dirham itu dengan kedua tangannya dan diberikannya kepada Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dengan mengatakan: “Belikan untuk Fathimah apa yang membuatnya baik, dari pakaian dan perabotan rumah.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyertakan Ammar ibn Yasir dan beberapa sahabatnya untuk menemani Abu Bakar. Di pasar mereka menawar hal-hal yang bagus dan mereka tidak membelinya melainkan setelah menyodorkannya kepada Abu Bakar dan Abu Bakar menganggapnya bagus….setelah pembelian selesai, Abu Bakar membawa sebagian barang dan sisanya dibawa oleh para sahabat lain yang bersamanya”.[3]
Bahkan tidak berhenti sampai di sini. Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu menjadi saksi dalam pernikahan yang diberkahi ini. Anas Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Saya berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau didatangi wahyu, setelah beliau selesai menerima wahyu beliau berkata kepadaku, “Ya Anas! Apakah engkau mengerti apa yang dibawa kepadaku oleh Jibril ‘Alaihi Sallam dari Pemilik Arsy?” Saya berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Saya diperintahkan untuk menikahkan Fathimah dengan Ali. Pergilah dan panggillah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan sebanyak bilangan mereka dari kaum Anshar.”
Anas berkata: “Maka saya berangkat mengundang mereka untuk Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tatkala mereka duduk di majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata –setelah bertahmid kepada Allah- : “Kemudian sesungguhnya aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku telah mengawinkan Fathimah dengan Ali dengan mahar 400 dirham, satu mitsqal perak”.[4]
Apakah kiranya yang akan diucapkan oleh mereka?
Sepertinya kita tidak mendengar suara kalian sama sekali!
Kemudian inilah kalian telah mengakui bahwa pernikahan Fathimah dengan Ali adalah dengan berdasarkan dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah telah memilih Ali untuk Fathimah, yang dia itu putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu bagaimana dengan Nabi sendiri yang diutus oleh Allah, bukankah Allah yang telah memilihkan untuknya istri-istrinya?
Bagaiamana kalian mengakui adanya perintah Allah dalam pernikahan Ali dengan Fathimah sementara kalian mengingkari pernikahan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan putri Abu Bakar, Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Padahal hal itu adalah perintah dan pilihan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala!
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sehingga mereka berusaha mengubah apa yang ada pada mereka.”
==========================================================
[1] Jala’ al-‘Uyun. Jilid I. Hal 169. Cet Kitab Furusyi Islamiyah. Teheran.
[2] Al-Manaqib. Al-Khawarizmi. Hal 235-252. Cet Najef; Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 359; Bihar al-Anwar. Hal 39, 40. Cet Teheran.
[3] Al-Amali. Jilid I. Hal 39; Al-Manaqib. Al-Mazindani. Jilid II. Hal 20. Cet India; Jala’ al-‘Uyun. Jilid I. Hal 176.
[4] Kasyf al-Ghummah. Jild I. Hal 348. Cet. Tibriz; Bihar al-Anwar. Jilid I. Hal 47-48.
Saturday, 22 October 2011
ADA APA DENGAN SYIAH?...
Tampaknya Tidak salah jika saya membuat semboyan:" Kalo Tidak Goblog , gak bakalan masuk syiah". Mungkin orang syiah menolak semboyan ini. Akan tetapi mereka telah membuktikan kebenaran semboyan tersebut. Mengapa?. Sebab orang syiah paling gengsi untuk mengikuti Abu Bakar. Mereka bilang:" kami tidak mau mengikuti ijtihad Abu bakar. Kami hanya mengikuti Rosululloh". Benarkah?... Mari kita buktikan!
Rosululloh SAw menyuruh Umat islam untuk mengikuti Abu Bakar.
Dari Hudzaifah al yamani, Rosululloh SAW bersabda:
setelah aku meninggal ikutilah abu bakar dan umar...
(jam'ul fawaid juz 2 hlm 201).
Tentu saja Syiah menolak perintah Nabi di atas. Demi untuk membela penolakannya terhadap perintah Nabi, orang2 syiah menuduh Abu bakar gemar menyelishi baginda Nabi. Padahal telah jelas bahwa syiah lah yg menyelisihi beliau. Syiah tidak mau menjalankan perintah Nabi untuk mengikuti Abu bakar.
Ok! mari kita buktikan, apakah Abu bakar selalu menyelisihi Nabi Saw?.
Baginda Nabi SAW di utus untuk mengajarkan risalah tauhidiyah. Beliau menyeru seluruh manusia untuk mengikuti ajaran tersebut. Dan Abu Bakar Ra mengikuti seruan tersebut.(al bidayah juz 3 hlm 29).
Baginda Nabi Saw meminta Abu Bakar untuk menemani Hijrah. Abu bakar pun menemani beliau. ( Al bidayah juz 3 hlm 180).
Setelah perang Uhud usai Baginda Nabi menyuruh para sahabatnya untuk mengejar pasukan musyrik. Kisah ini di kenal dg yaumu roji'. Abu Bakar mengikuti perintah beliau. ( Al haitsamy juz 9 hlm 145. Al ishobah juz 3 hlm 132).
Saat akan perang tabuk baginda Nabi Saw menyuruh umat islam agar mensedekahkan hartanya untuk biaya perang. Abu bakar bersedekah 4000 dirham. (Al bidayah juz 3 hlm 277. Ibn Asakir Juz 1 hlm 105. Kanzul Umal Juz 1 hlm 249. Al haitsamy Juz 7 hlm 30. Al baihaqi Juz 9 hlm 33). Mereka yg menjadi donatur perang tabuk di puji oleh Alloh. At taubah:88, artinya:
"akan tetapi rosul dan orang2 yg beriman bersama dia, mereka berjihad menggunakan harta dan jiwa mereka".
Masih banyak lagi contoh2 kepatuhan ABu bakar kepada Baginda Nabi. Cukuplah contoh di atas sebagai bukti. Bagi anda yg ingin mendapatkan penjelasan lebih, silahkan merujuk ke kitab2 tersebut.
Setelah Rosululloh meninggal, orang2 ansor berkumpul di saqifah bani sa'idah GUNA MEMBAIAT SA'AD BIN UBADAH. Kemudian UMAR, Abu bakar, dan Abu ubaidah bin jaroh mendatangi mereka". Di sana Abu Bakar Menyampaikan hadis Nabi bahwa kepemimpinan ada di tangan quroisy. Apakah Abu bakar menyelisihi Nabi?
(Kanzul umal juz 3 hlm 139. Al bidayah juz 5 hlm 245).
Ketika Rosululloh SAW masih hidup beliau senantiasa mengadakan musyawaroh bersama para para sahabatnya. Kebiasaan ini di lanjutkan oleh ABu bakar. Sebelum ABu bakar mengerahkan pasukan islam untuk memerangi orang yg murtad, beliau mengumpulkan para pemikir islam dari kaum muhajir dan ansor untuk bermusyawarah. Penting di ingat, Abu bakar juga meneruskan misi Nabi yaitu mengutus pasukan usamah bin zaid. Abu bakar tidak menjadikan pengutusan ini sebagai agenda musyawarah sebab misi itu adalah misinya Nabi. Ini menjadi bukti bahwa Abu bakar sangat mematuhi Nabi. Seandainya tidak, niscaya dia tidak akan meneruskan pasukan usamah.
Orang2 syiah bertanya:" Mengapa Abu bakar memerangi orang2 yg tak di perangi oleh Rosululloh?".
Saya jawab:" Memang benar Rosululloh Saw tidak memerangi mereka. Bagaimana mungkin Rosululloh memerangi mereka, lha wong ketika Rosululloh SAW masih hidup mereka membayar zakat kok. Yang di perangi oleh Abu bakar adalah mereka yg memisahkan antara solat dan zakat. Di jaman Nabi tidak ada orang islam yg memisahkan antara solat dan zakat. Bagaimana Rosululloh SAW memerangi mereka?". Adapun sa'labah, yg sering di jadikan dalil oleh syiah. Memang benar dia tidak membayar zakat di zaman rosululloh SAW. Namun pada ahirnya dia membayar zakat. jadi wajar rosululloh SAW tidak memeranginya".
Kondisi di jaman Abu Bakar tidak sama dg yg terjadi di jaman Nabi. Di jaman nabi yg menolak untuk membayar zakat hanya seorang, yaitu sa'labah. Sedangkan di jaman Abu bakar ad/ kabilah2 arab yg baru masuk islam. Jumlah mereka banyak, maka dari itu Abu bakar mengerahkan pasukan. Sebelum mengerahkan pasukan itu, abu bakar mengumpulkan para pemikir islam dari kaum muhajir dan ansor untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tersebut terjadi perbedaan pendapat. Umar ra tidak setuju kalo orang2 yg memisahkan antara zakat dan solat di perangi. Dia mengajukan argumen berupa hadis bahwa Nabi di utus untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan kalimat syahadat, sholat, puasa. Jika mereka melakukan semua itu maka harta dan jiwa mereka di lndungi oleh islam kecuali dg haknya".
Kemudian ABu bakar berkata:" dalam harta terdapat hak untuk di zakati. Mereka tidak mau membayar zakat, maka boleh di perangi. Semua peserta musyawarah diam. tidak ada yg menyangkal pendapat Abu bakar. Lalu ABu bakar bertanya kepada Aly kw:
" wahai abal hasan! bagaimana pendapatmu?".
Aly kw menjawab:" jika engkau mengirim pasukan kepada mereka, maka engkau akan menang insya Alloh". Ahirnya mereka sepakat untuk memerangi orang2 yg menolak untuk membayar zakat.
( Al haitsamy juz 9 hlm 50. Al bidayah juz 6 hlm 305. Al mukhtashor juz 1 hlm 124. Kanzul Umal uz 4 hlm 348. Al muntakhob juz 3 hlm 301).
Para pemikr islam telah sepakat. Kita bertanya2, mengapa syiah menentang kesepakatan pemikir islam?. padahal Imam Aly sebagai Imam pertama syiah tidak menentang kesepakatan itu. Beliau mendukung pengiriman pasukan tersebut. Ada apa dg syiah?
Aly kw sebagai saksi mata kejadian itu tidak menyalahkan kebijaksanaan Abu Bakar. Beliau malah ikut dalam pasukan Abu bakar.
Seorang Imam Syiah berkomentar:
قال الامام الباقر : إن الامام علي لم يدع إلى نفسه وأنه أقرّ القوم على ما صنعوا و كتم أمره
(الكليني ، روضة الكافي ، ص ٢٤٦)
Al IMAM ali tdk menuntut untuk dirinya dan beliau merestui kpd qoum (sohabat) atas apa yg mereka buat dan beliau diam (menyimpan) atas perkara trsbt
Pertanyaan buat syiah...:
Kenapa imam ali DIAM ketika beliau WAJIB berbicara (untuk menyampaikan yg haq) dan klian berbicara ketika wajib bagi klian DIAM (krn ittiba' dg imam ali yg diam atas perkara trsbt) ??????
Apakah klian lbh BERANI mnyampaikan yg "haq" drpd IMAM ALI????
Wal hasil Imam Aly tidak mempermasalahkan apa yg menjadi kebijaksanaan Abu bakar. sebaliknya beliau menyetujui dan memuji Abu bakar. Mari Kita lihat komentar Aly kw ketika beliau telah menjadi kholifah. Aly kw berkata:
" Abu bakar adalah pemimpin islam. Kami membaiat nya karena dia berhak untuk menjadi kholifah. Maka dari itu aku berperang bersama pasukannya".
(Tarikh Khulafa' hlm 146. Sayyiduna Muhammad Saw Uswah Hasanah hlm 500).
Orang2 syiah menentang pendapat Imam Aly. Merka berkata: kami tidak mengikuti ijtihad Abu Bakar. Kami Hanya mengikuti Nabi".
Benarkah?...Mari kita buktikan!!!
Seorang pemegang rahasia Nabi, Hudzaifah al yamani Ra yg oleh syiah di aku2 sebagai syiah menyampaikan sebuah hadis dari Nabi.
Dari Hudzaifah al yamani, Rosululloh SAW bersabda:
setelah aku meninggal ikutilah abu bakar dan umar...
(jam'ul fawaid juz 2 hlm 201).
Apakah kalian mau mengikuti pesan Nabi SAW yg di sampaikan oleh Hudzaifah alyamani Ra wahai syiah Dajjal?
Rosululloh SAw menyuruh Umat islam untuk mengikuti Abu Bakar.
Dari Hudzaifah al yamani, Rosululloh SAW bersabda:
setelah aku meninggal ikutilah abu bakar dan umar...
(jam'ul fawaid juz 2 hlm 201).
Tentu saja Syiah menolak perintah Nabi di atas. Demi untuk membela penolakannya terhadap perintah Nabi, orang2 syiah menuduh Abu bakar gemar menyelishi baginda Nabi. Padahal telah jelas bahwa syiah lah yg menyelisihi beliau. Syiah tidak mau menjalankan perintah Nabi untuk mengikuti Abu bakar.
Ok! mari kita buktikan, apakah Abu bakar selalu menyelisihi Nabi Saw?.
Baginda Nabi SAW di utus untuk mengajarkan risalah tauhidiyah. Beliau menyeru seluruh manusia untuk mengikuti ajaran tersebut. Dan Abu Bakar Ra mengikuti seruan tersebut.(al bidayah juz 3 hlm 29).
Baginda Nabi Saw meminta Abu Bakar untuk menemani Hijrah. Abu bakar pun menemani beliau. ( Al bidayah juz 3 hlm 180).
Setelah perang Uhud usai Baginda Nabi menyuruh para sahabatnya untuk mengejar pasukan musyrik. Kisah ini di kenal dg yaumu roji'. Abu Bakar mengikuti perintah beliau. ( Al haitsamy juz 9 hlm 145. Al ishobah juz 3 hlm 132).
Saat akan perang tabuk baginda Nabi Saw menyuruh umat islam agar mensedekahkan hartanya untuk biaya perang. Abu bakar bersedekah 4000 dirham. (Al bidayah juz 3 hlm 277. Ibn Asakir Juz 1 hlm 105. Kanzul Umal Juz 1 hlm 249. Al haitsamy Juz 7 hlm 30. Al baihaqi Juz 9 hlm 33). Mereka yg menjadi donatur perang tabuk di puji oleh Alloh. At taubah:88, artinya:
"akan tetapi rosul dan orang2 yg beriman bersama dia, mereka berjihad menggunakan harta dan jiwa mereka".
Masih banyak lagi contoh2 kepatuhan ABu bakar kepada Baginda Nabi. Cukuplah contoh di atas sebagai bukti. Bagi anda yg ingin mendapatkan penjelasan lebih, silahkan merujuk ke kitab2 tersebut.
Setelah Rosululloh meninggal, orang2 ansor berkumpul di saqifah bani sa'idah GUNA MEMBAIAT SA'AD BIN UBADAH. Kemudian UMAR, Abu bakar, dan Abu ubaidah bin jaroh mendatangi mereka". Di sana Abu Bakar Menyampaikan hadis Nabi bahwa kepemimpinan ada di tangan quroisy. Apakah Abu bakar menyelisihi Nabi?
(Kanzul umal juz 3 hlm 139. Al bidayah juz 5 hlm 245).
Ketika Rosululloh SAW masih hidup beliau senantiasa mengadakan musyawaroh bersama para para sahabatnya. Kebiasaan ini di lanjutkan oleh ABu bakar. Sebelum ABu bakar mengerahkan pasukan islam untuk memerangi orang yg murtad, beliau mengumpulkan para pemikir islam dari kaum muhajir dan ansor untuk bermusyawarah. Penting di ingat, Abu bakar juga meneruskan misi Nabi yaitu mengutus pasukan usamah bin zaid. Abu bakar tidak menjadikan pengutusan ini sebagai agenda musyawarah sebab misi itu adalah misinya Nabi. Ini menjadi bukti bahwa Abu bakar sangat mematuhi Nabi. Seandainya tidak, niscaya dia tidak akan meneruskan pasukan usamah.
Orang2 syiah bertanya:" Mengapa Abu bakar memerangi orang2 yg tak di perangi oleh Rosululloh?".
Saya jawab:" Memang benar Rosululloh Saw tidak memerangi mereka. Bagaimana mungkin Rosululloh memerangi mereka, lha wong ketika Rosululloh SAW masih hidup mereka membayar zakat kok. Yang di perangi oleh Abu bakar adalah mereka yg memisahkan antara solat dan zakat. Di jaman Nabi tidak ada orang islam yg memisahkan antara solat dan zakat. Bagaimana Rosululloh SAW memerangi mereka?". Adapun sa'labah, yg sering di jadikan dalil oleh syiah. Memang benar dia tidak membayar zakat di zaman rosululloh SAW. Namun pada ahirnya dia membayar zakat. jadi wajar rosululloh SAW tidak memeranginya".
Kondisi di jaman Abu Bakar tidak sama dg yg terjadi di jaman Nabi. Di jaman nabi yg menolak untuk membayar zakat hanya seorang, yaitu sa'labah. Sedangkan di jaman Abu bakar ad/ kabilah2 arab yg baru masuk islam. Jumlah mereka banyak, maka dari itu Abu bakar mengerahkan pasukan. Sebelum mengerahkan pasukan itu, abu bakar mengumpulkan para pemikir islam dari kaum muhajir dan ansor untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tersebut terjadi perbedaan pendapat. Umar ra tidak setuju kalo orang2 yg memisahkan antara zakat dan solat di perangi. Dia mengajukan argumen berupa hadis bahwa Nabi di utus untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan kalimat syahadat, sholat, puasa. Jika mereka melakukan semua itu maka harta dan jiwa mereka di lndungi oleh islam kecuali dg haknya".
Kemudian ABu bakar berkata:" dalam harta terdapat hak untuk di zakati. Mereka tidak mau membayar zakat, maka boleh di perangi. Semua peserta musyawarah diam. tidak ada yg menyangkal pendapat Abu bakar. Lalu ABu bakar bertanya kepada Aly kw:
" wahai abal hasan! bagaimana pendapatmu?".
Aly kw menjawab:" jika engkau mengirim pasukan kepada mereka, maka engkau akan menang insya Alloh". Ahirnya mereka sepakat untuk memerangi orang2 yg menolak untuk membayar zakat.
( Al haitsamy juz 9 hlm 50. Al bidayah juz 6 hlm 305. Al mukhtashor juz 1 hlm 124. Kanzul Umal uz 4 hlm 348. Al muntakhob juz 3 hlm 301).
Para pemikr islam telah sepakat. Kita bertanya2, mengapa syiah menentang kesepakatan pemikir islam?. padahal Imam Aly sebagai Imam pertama syiah tidak menentang kesepakatan itu. Beliau mendukung pengiriman pasukan tersebut. Ada apa dg syiah?
Aly kw sebagai saksi mata kejadian itu tidak menyalahkan kebijaksanaan Abu Bakar. Beliau malah ikut dalam pasukan Abu bakar.
Seorang Imam Syiah berkomentar:
قال الامام الباقر : إن الامام علي لم يدع إلى نفسه وأنه أقرّ القوم على ما صنعوا و كتم أمره
(الكليني ، روضة الكافي ، ص ٢٤٦)
Al IMAM ali tdk menuntut untuk dirinya dan beliau merestui kpd qoum (sohabat) atas apa yg mereka buat dan beliau diam (menyimpan) atas perkara trsbt
Pertanyaan buat syiah...:
Kenapa imam ali DIAM ketika beliau WAJIB berbicara (untuk menyampaikan yg haq) dan klian berbicara ketika wajib bagi klian DIAM (krn ittiba' dg imam ali yg diam atas perkara trsbt) ??????
Apakah klian lbh BERANI mnyampaikan yg "haq" drpd IMAM ALI????
Wal hasil Imam Aly tidak mempermasalahkan apa yg menjadi kebijaksanaan Abu bakar. sebaliknya beliau menyetujui dan memuji Abu bakar. Mari Kita lihat komentar Aly kw ketika beliau telah menjadi kholifah. Aly kw berkata:
" Abu bakar adalah pemimpin islam. Kami membaiat nya karena dia berhak untuk menjadi kholifah. Maka dari itu aku berperang bersama pasukannya".
(Tarikh Khulafa' hlm 146. Sayyiduna Muhammad Saw Uswah Hasanah hlm 500).
Orang2 syiah menentang pendapat Imam Aly. Merka berkata: kami tidak mengikuti ijtihad Abu Bakar. Kami Hanya mengikuti Nabi".
Benarkah?...Mari kita buktikan!!!
Seorang pemegang rahasia Nabi, Hudzaifah al yamani Ra yg oleh syiah di aku2 sebagai syiah menyampaikan sebuah hadis dari Nabi.
Dari Hudzaifah al yamani, Rosululloh SAW bersabda:
setelah aku meninggal ikutilah abu bakar dan umar...
(jam'ul fawaid juz 2 hlm 201).
Apakah kalian mau mengikuti pesan Nabi SAW yg di sampaikan oleh Hudzaifah alyamani Ra wahai syiah Dajjal?
Tuesday, 18 October 2011
MAFAHIM WADLIHAH FI RODDI QISHOH MIN SYIAH ROFIDLOH.(bagaimana mungkin Umy Fathimah di aniaya?)
Dalam Syiah terdapat kisah tragis tentang penganiayaan yg di lakukan oleh Abu Bakar Ra dan Umar Ra terhadap Umy Fathimah Rha. Kisah ini telah di yakini oleh orang2 syiah kebenarannya. Konon, mereka selalu memperingati kejadian itu. Dalam acara tersebut mereka menangis membayangkan kondisi Umy Fatimah Rha saat di aniaya. Bersamaan dengan itu merekka juga melaknat Abu bakar Ra dan Umar Ra.
Mungkin sebagian orang syiah akan mengingkari hal ini. Kemudian mereka akan menuduh ana sebagai tukang Kadzab dan tukang fitnah. Ana tidak heran, sebab memang begitulah cara syiah. Akan tetapi bagi ana cara syiah tersebut merupakan bukti bahwa apa yg mereka peringati ad/ sesuatu yg tidak masuk akal. Sehingga mereka gengsi untuk mengakuinya.
Oleh karena itu ketika mazhab mereka di kritisi maka sepontanitas mereka akan berkata:
" ITU FITNAH...!!!ITU BOHONG!!!...ITU TIDAK BENAR....!!!".
Sebenarnya ana kasihan pada orang2 syiah. Mereka yg selalu mengaku kritis dan selalu mendeklarasikan diri sebagai mazhab yg rasionalis, ternyata mereka tidak mampu menggunakan akal mereka untuk mengkritisi mazhab mereka sendiri, termasuk kisah tragis yg menimpah Umy Fatimah Rha. Seandainya mereka benar2 kritis, Niscaya mereka akan mengomentari kisah itu, begini:
:" ah...! mustahil itu terjadi".
MENGAPA?
Seluruh ahli sejarah dunia mengakui bahwa Aly kw adalah seorang pemberani. Mungkinkah seoarang pemberani diam saja melihat istrinya di aniaya?.
Apakah beliau tidak pernah mendengar sabda Nabi SAW bahwasanya barang siapa mati karena membela keluarganya, maka dia mati syahid".
Seorang pemberani yg memiliki pedang sakti seperti Aly kw tidak mungkin akan diam saja jika istrinya di aniaya.
Alloh Swt berfirman, ALi Imron:110, artinya:
" kalian adalah sebaik2 umat yang di lahirkan untuk manusia. Kalian menyuruh pada yg ma'ruf dan kalian mencegah dari yang mungkar".
Penganiayaan termasuk perbuatan yg mungkar. Aly Kw adalah salah satu sahabat Nabi yg terbaik. Bagaimana mungkin orang terbaik akan membiarkan kemungkaran?.
Baginda Nabi Saw bersabda:
"sebaik baik kalian adalah ygterbaik terhadap istrinya".
Mungkinkah orang terbaik diam saja ketika istrinya di zolomi?
Hanya orang2 yg SINTING yang mempercayai kejadian itu.
Sebagian syiah ada yg memberi alsan mengapa Aly kw diam. Katanya saat itu Aly kw dalam keadaan lemah. Beliau tidak memiliki kekuatan untuk melawan Abu Bakar Ra.
Alasan ini di samping lucu juga sangat tidak masuk akal.
MENGAPA?
Aly kw adalah seorang pemberani. Seseorang yg mampu melawan musuhnya dg kekuatan yg imbang, dia blum bisa di sebut sebagai pemberani. Yang di sebut pemberani adalah dia yg berani melawan musuh meskipun kekuatannya lebih besar. Ini adalah setandar umum dalam menilai keberanian.
Seandainya Aly kw diam dg alsan kondisi beliau lemah. Beliau tidak memiliki kekuatan untuk membela, maka konsekuwensi logisnya adalah syiah harus menyebut Aly kw sebagai pengecut. Atau minimal syiah harus melepas titel keberanian yg beliau sandang. Jika syiah masih menyebut beliau sebagai pemberani sementara beliau tidak berani membela istrinya yg di zolimi, berarti syiah meyakini adanya dua sifat yg saling bertentangan ada pada diri seseorang.Ini sangat tidak masuk akal. Cos, setandar umum mengatakan bahwa seorang pemberani tidak mungkin memiliki sifat pengecut. sebaliknya seorang pengecut mustahil memiliki sifat berani.
Mungkin ada orang syiah yg menilai bahwa diamnya Aly kw hanya sekedar taqiyyah belaka. Jika kemungkinan ini terjadi maka jelas syiah sedang mencoba menghayal.
MENGAPA?
Aly kw memiliki senjata sakti bernama pedang dzul fikar. Konon malaikat jibril tidak mampu menghalau sabetan pedang tersebut. Seandainya pedang itu di sabetkan ke bumi, niscaya bumi akan bergoncang.
Jadi ibarat Nuklir. Sebuah nuklir ketika di jatuhkan ke suatu tempat, niscaya tempat itu akan bergoncang dan ratusan ribu orang yg berada di sana pasti akan mati. Jika benar Umy Fathimah Rha di zolimi, niscaya Aly kw akan menggunakan pedang tersebut untuk membela beliau. Apakah pedang dzul fikar juga ikut bertaqiyyah?.
Bangsa Arab terkenal dg kefanatikannya terhadap kobilah nya. Setiap pengamat sejarah pasti tidak akan meninggalkan kesimpulan ini. Fanatisme terhadap kobilahnya menjadi ciri orang arab sekaligus menjadi watak mereka.
Aly kw termasuk bani Hasyim. Abu bakar termasuk bani taim. sedangkan Umar ad/ bani adi. Bani Hasyim ad/ kabilah terbesar di antara kabilah 2 suku quroisy. Merka memiliki pengaruh yg cukup besar di kalangan suku quroisy dan suku2 lain di jazirah arab.
Aly kw pernah di tugas kan ke daerah yaman. Di sana beliau berhasil mengislamkan banyak orang. Seandainya Umy Fathimah di aniaya oleh Abu Bakar dan Umar, Niscaya bani Hasyim akan membela Aly kw. Demikian juga kabilah2 lain serta penduduk yaman yg di islamkan oleh Aly kw.
Jadi alasan diamnya Aly kw saat itu ad/ sebab kondisi beliau lemah, sangat tidak masuk akal dan tampak sekali mengada-ada.
Mengapa?...
sebab sikap fanatisme bangsa arab telah menjadi watak merka.Mustahil, bani Hasyim dan kabilah2 lain tidak membela Aly kw.
Seorang pengamat sejarah asal eropa bernama Neo amstrong masuk islam setelah dia menganalisa sejarah keberhasilan Baginda Nabi SAW menyatukan kaum Muhajir dan Ansor. Katanya:" Mengingat sifat fanatisme bangsa arab terhadap golongannya, hal itu mustahil berhasil kecuali di atas dasar iman yg kuat ".
Ketika menganalisa tragedi sadis yg menimpa Umy Fathimah Rha, dia berkata:
" seandainya kisah itu benar, berarti Nabi Muhammad telah gagal. Akan tetapi seluruh ahli sejarah dunia tidak akan setuju".
Perhatikan kisah tragis tersebut;
Fatimah berhasil meminta surat warisan dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat warisdan dari Abu bakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
(Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash).
di situ terdapat kalimat :
"Fatimah berhasil meminta surat warisan dari Abubakar....".
Ketika mengomentari kalimat tersebut, amstrong berkata:
" SAYA BELUM PERNAH MENEMUKAN BUKTI SEJARAH YG MENUNJUKAN BAHWA SAAT ITU TELAH DI KENAL SURAT WARISAN".
Maka semakin jelaslah rekayasa kisah tersebut. Jadi kisah tragis itu lebih tepat di sebut sebagai NOVEL TRAGIS MADE IN SYI'AH.
Mungkin sebagian orang syiah akan mengingkari hal ini. Kemudian mereka akan menuduh ana sebagai tukang Kadzab dan tukang fitnah. Ana tidak heran, sebab memang begitulah cara syiah. Akan tetapi bagi ana cara syiah tersebut merupakan bukti bahwa apa yg mereka peringati ad/ sesuatu yg tidak masuk akal. Sehingga mereka gengsi untuk mengakuinya.
Oleh karena itu ketika mazhab mereka di kritisi maka sepontanitas mereka akan berkata:
" ITU FITNAH...!!!ITU BOHONG!!!...ITU TIDAK BENAR....!!!".
Sebenarnya ana kasihan pada orang2 syiah. Mereka yg selalu mengaku kritis dan selalu mendeklarasikan diri sebagai mazhab yg rasionalis, ternyata mereka tidak mampu menggunakan akal mereka untuk mengkritisi mazhab mereka sendiri, termasuk kisah tragis yg menimpah Umy Fatimah Rha. Seandainya mereka benar2 kritis, Niscaya mereka akan mengomentari kisah itu, begini:
:" ah...! mustahil itu terjadi".
MENGAPA?
Seluruh ahli sejarah dunia mengakui bahwa Aly kw adalah seorang pemberani. Mungkinkah seoarang pemberani diam saja melihat istrinya di aniaya?.
Apakah beliau tidak pernah mendengar sabda Nabi SAW bahwasanya barang siapa mati karena membela keluarganya, maka dia mati syahid".
Seorang pemberani yg memiliki pedang sakti seperti Aly kw tidak mungkin akan diam saja jika istrinya di aniaya.
Alloh Swt berfirman, ALi Imron:110, artinya:
" kalian adalah sebaik2 umat yang di lahirkan untuk manusia. Kalian menyuruh pada yg ma'ruf dan kalian mencegah dari yang mungkar".
Penganiayaan termasuk perbuatan yg mungkar. Aly Kw adalah salah satu sahabat Nabi yg terbaik. Bagaimana mungkin orang terbaik akan membiarkan kemungkaran?.
Baginda Nabi Saw bersabda:
"sebaik baik kalian adalah ygterbaik terhadap istrinya".
Mungkinkah orang terbaik diam saja ketika istrinya di zolomi?
Hanya orang2 yg SINTING yang mempercayai kejadian itu.
Sebagian syiah ada yg memberi alsan mengapa Aly kw diam. Katanya saat itu Aly kw dalam keadaan lemah. Beliau tidak memiliki kekuatan untuk melawan Abu Bakar Ra.
Alasan ini di samping lucu juga sangat tidak masuk akal.
MENGAPA?
Aly kw adalah seorang pemberani. Seseorang yg mampu melawan musuhnya dg kekuatan yg imbang, dia blum bisa di sebut sebagai pemberani. Yang di sebut pemberani adalah dia yg berani melawan musuh meskipun kekuatannya lebih besar. Ini adalah setandar umum dalam menilai keberanian.
Seandainya Aly kw diam dg alsan kondisi beliau lemah. Beliau tidak memiliki kekuatan untuk membela, maka konsekuwensi logisnya adalah syiah harus menyebut Aly kw sebagai pengecut. Atau minimal syiah harus melepas titel keberanian yg beliau sandang. Jika syiah masih menyebut beliau sebagai pemberani sementara beliau tidak berani membela istrinya yg di zolimi, berarti syiah meyakini adanya dua sifat yg saling bertentangan ada pada diri seseorang.Ini sangat tidak masuk akal. Cos, setandar umum mengatakan bahwa seorang pemberani tidak mungkin memiliki sifat pengecut. sebaliknya seorang pengecut mustahil memiliki sifat berani.
Mungkin ada orang syiah yg menilai bahwa diamnya Aly kw hanya sekedar taqiyyah belaka. Jika kemungkinan ini terjadi maka jelas syiah sedang mencoba menghayal.
MENGAPA?
Aly kw memiliki senjata sakti bernama pedang dzul fikar. Konon malaikat jibril tidak mampu menghalau sabetan pedang tersebut. Seandainya pedang itu di sabetkan ke bumi, niscaya bumi akan bergoncang.
Jadi ibarat Nuklir. Sebuah nuklir ketika di jatuhkan ke suatu tempat, niscaya tempat itu akan bergoncang dan ratusan ribu orang yg berada di sana pasti akan mati. Jika benar Umy Fathimah Rha di zolimi, niscaya Aly kw akan menggunakan pedang tersebut untuk membela beliau. Apakah pedang dzul fikar juga ikut bertaqiyyah?.
Bangsa Arab terkenal dg kefanatikannya terhadap kobilah nya. Setiap pengamat sejarah pasti tidak akan meninggalkan kesimpulan ini. Fanatisme terhadap kobilahnya menjadi ciri orang arab sekaligus menjadi watak mereka.
Aly kw termasuk bani Hasyim. Abu bakar termasuk bani taim. sedangkan Umar ad/ bani adi. Bani Hasyim ad/ kabilah terbesar di antara kabilah 2 suku quroisy. Merka memiliki pengaruh yg cukup besar di kalangan suku quroisy dan suku2 lain di jazirah arab.
Aly kw pernah di tugas kan ke daerah yaman. Di sana beliau berhasil mengislamkan banyak orang. Seandainya Umy Fathimah di aniaya oleh Abu Bakar dan Umar, Niscaya bani Hasyim akan membela Aly kw. Demikian juga kabilah2 lain serta penduduk yaman yg di islamkan oleh Aly kw.
Jadi alasan diamnya Aly kw saat itu ad/ sebab kondisi beliau lemah, sangat tidak masuk akal dan tampak sekali mengada-ada.
Mengapa?...
sebab sikap fanatisme bangsa arab telah menjadi watak merka.Mustahil, bani Hasyim dan kabilah2 lain tidak membela Aly kw.
Seorang pengamat sejarah asal eropa bernama Neo amstrong masuk islam setelah dia menganalisa sejarah keberhasilan Baginda Nabi SAW menyatukan kaum Muhajir dan Ansor. Katanya:" Mengingat sifat fanatisme bangsa arab terhadap golongannya, hal itu mustahil berhasil kecuali di atas dasar iman yg kuat ".
Ketika menganalisa tragedi sadis yg menimpa Umy Fathimah Rha, dia berkata:
" seandainya kisah itu benar, berarti Nabi Muhammad telah gagal. Akan tetapi seluruh ahli sejarah dunia tidak akan setuju".
Perhatikan kisah tragis tersebut;
Fatimah berhasil meminta surat warisan dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat warisdan dari Abu bakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
(Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash).
di situ terdapat kalimat :
"Fatimah berhasil meminta surat warisan dari Abubakar....".
Ketika mengomentari kalimat tersebut, amstrong berkata:
" SAYA BELUM PERNAH MENEMUKAN BUKTI SEJARAH YG MENUNJUKAN BAHWA SAAT ITU TELAH DI KENAL SURAT WARISAN".
Maka semakin jelaslah rekayasa kisah tersebut. Jadi kisah tragis itu lebih tepat di sebut sebagai NOVEL TRAGIS MADE IN SYI'AH.
Saturday, 15 October 2011
MAFAHIM SHOGHIROH FI GHOZWAH 'USROH
Kejadian perang tabuk atau yg juga di sebut dg perang 'usroh, mengungkapkan adanya orang munafik di antara orang2 islam. Mereka secara zohir menampakan keimanannya akan tetapi batinnya kafir.
Ketika Alloh memerintah umat islam untuk berjihad, orang2 munafik ada yg mengajukan alasan bahwa dia tidak mampu (at taubah;42). Ada juga yang minta izin untuk tidak ikut perang ( At taubah; 43). Mereka menghina orang2 islam yg memberi sumbangan untuk biaya perang ( At taubah;79). Ada juga yg malah melarang temannya untuk mengikuti perang ( At taubah; 81).
Demikian lah sikap orang2 munafik saat itu yg tentunya berbeda dg sikap orang2 yg beriman. Ketika Rosululloh SAW memberi ultimatum agar umat islam memberikan sumbangan untuk biaya perang, maka para sahabat dari kaum muhajir dan ansor segera mengeluarkan harta mereka.
Abu bakar Ra menyumbang 4000 dirham. Umar ra menyumbang 1 uqiyyah. Ustman Ra menyumbang 10000 dinar dan 300 onta. Beliau juga membiayai 1/3 pasukan perang. Abdurrohman bin 'auf menyumbang 200 uqiyyah, Amir Al ansori menyumbang 90 wasak kurma.
Para wanita dari kaum muhajir dan ansor tidak mau kalah. Mereka mengumpulkan perhiasan2 mereka untuk di sumbangkan.
Melihat kekompakan ini, orang2 munafik merasa sakit hati. Mereka melancarkan aksinya. Jika ada orang yg menyumbang banyak, mk mereka akan berkata:" ah1 kamu hanya pamer saja". Ketika ada yg menyumbang sedikit, mereka berkata:" apa yg kamu berikan tidak sebanding dg kebutuhan pasukan".
(Al bidayah juz 3 hlm 277. Ibn Asakir Juz 1 hlm 105. Kanzul Umal Juz 1 hlm 249. Al haitsamy Juz 7 hlm 30. Al baihaqi Juz 9 hlm 33).
Meski demikian, masih ada sebagian munafik yg mengikutio perang. Tujuannya ad/ untuk mengintai kondisi pasukan islam. Jika pasukan islam mengalami kesusahan, mereka akan merasa senang dan mengabarkannya ke madinah.
At taubah: 50, artinya:
" Jika kamu di timpa oleh suatu bencana, mereka( orang munafik) berkata:" sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami untuk( tidak ikut perang)....".
Kabar tersebut di jadikan senjata oleh orang2 munafik yg tidak ikut perang dan orang2 yahudi untuk menfitnah orang2 beriman yg di madinah. Tujuannya agar iman mereka lemah. Lho kok bisa?...Begini, Alloh dan RosulNya selalu berjanji berupa kemenangan dan pertolongan. Ketika pasukan islam mengalami keburukan, orang2 munafik itu akan berkata:" lihatlah Muhammad telah menipu kalian".
Di samping itu, orang2 yahudi memiliki keyakinan bahwa seorang nabi tidak akan di kalahkan dalam peperangan. Jika pasukan islam mengalami keburukan, maka mereka akan berkata:" seandainya Muhammad seorang nabi, tentu hal ini tak akan terjadi".
Ketika pasukan islam kembali dari tabuk , ada 14 orang yg merencanakan pembunuhan atas diri Nabi SAW.
Mereka itu lah orang2 munafik. Mereka adalah pengikut Abdulloh bin Ubay bin Salul yang bekerja sama dengan yahudi. Namun Ironisnya orang2 syiah menuduh Abu bakar, Umar, Usman, Tholhah sebagi pelakunya. Lihat di sini.
http://www.facebook.com/messages/?action=read&tid=PgOt8ps%2FJ1CnBKtnYe336A#!/note.php?note_id=10150302686586123
Padahal seluruh dunia tau bahwa mereka termasuk golongan Muhajir. Di sebut Muhajir sebab mereka mengikuti baginda nabi hijroh. Artinya mereka ad/ pengikut Nabi SAW. Lho pengikut Nabi kok di sebut munafik?.
Perhatikan riwayat yg menceritakan kejadian itu.
وأخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضي الله عنه قال « رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم قافلاً من تبوك إلى المدينة ، حتى إذا كان ببعض الطريق مَكَرَ برسول الله صلى الله عليه وسلم من أصحابه فتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق ، فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه ، فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه وسلم أخبر خبرهم فقال : من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فإنه أوسع لكم ، وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم العقبة ، وأخذ الناس ببطن الوادي إلا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه وسلم لما سمعوا ذلك استعدوا وتلثموا وقد هموا بأمر عظيم ، وأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم حذيفة بن اليمان رضي الله عنه وعمار بن ياسر رضي الله عنه فمشيا معه شيئاً ، فأمر عمار أن يأخذ بزمام الناقة ، وأمر حذيفة بسوقها. فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه ، فغضب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر حذيفة أن يردهم ، وأبصر حذيفة رضي الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه وسلم فرجع ومعه محجن ، فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضرباً بالمحجن ، وأبصر القوم وهم متلثمون لا يشعرون إنما ذلك فعل المسافر ، فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضي الله عنه وظنوا أن مكرهم قد ظهر عليه ، فأسرعوا حتى خالطوا الناس وأقبل حذيفة رضي الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فلما أدركه قال : اضرب الراحلة يا حذيفة وامشِ أنت يا عمار ، فأسرعوا حتى استووا بأعلاها ، فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه وسلم لحذيفة : هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحداً؟ قال حذيفة : عرفت راحلة فلان وفلان ، وقال : كانت ظلمة الليل وغشيتهم وهم متلثمون . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : هل علمتم ما كان شأنهم وما أرادوا؟ قالوا : لا والله يا رسول الله . . . ! قال : فإنهم مكروا ليسيروا معي حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها . قالوا : أفلا تأمر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم؟ قال : أكره أن يتحدث الناس ويقولوا : إن محمد وضع يده في أصحابه فسماهم لهما ، وقال : اكتماهم » .تفسير الدر المنثور لجلال الدين السيوطي باب74ج5ص117 وهو عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين. والسيوطي نسبة إلى أسيوط مدينة في صعيد مصر 849 – 911 هـ، 1445 – 1505م(المكتبة الشاملة)
Dalam riwayat tidak di sebutkan nama2 mereka. lalu dari mana orang2 syiah tahu kalo pelakunya ad/ orang muhajir?. Ngarang kah?
Al isro';36,artinya:
"dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya".
Mengikuti sesuatu yg kita tidak memiliki pemgetahuan tentangnya, berarti mengikuti perasangka.
Yunus 36, artinya:" sesungguhnya perasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran".
Alloh SWT berfirman, At taubah:88, artinya:
"akan tetapi rosul dan orang2 yg beriman bersama dia, mereka berjihad menggunakan harta dan jiwa mereka".
At taubah;44, artinya:
"orang2 yg berimn kepada Alloh dan hari kemudian, mereka tidak akan meminta izin kepadamu untuk tudak berjihad dg harta dan diri mereka".
Abu bakar, Umar, Ustman, Tholhah serta kaum muhajir dan ansor yg lainnya ad/ donatur yg menyumbangkan harta mereka untuk biaya pernag tersebut.
At taubah:71, artinya:
"mereka itu akan di beri rahmat oleh Alloh".
At taubah:117, artinya:
"sesungguhnya Alloh telah menerima Tobat Nabi, orang2 Muhajir dan Ansor yang mengikuti Nabi dalam masa sulit ( perang tabuk)".
ABU BAKAR , UMAR , UTSMAN , THALHAH DAN SA'AD BIN ABI WAQASH, mereka ad/ orang2 muhajir yg mengikuti perang tabuk. Mereka dalam pandangan Alloh ad/ orang2 yg beruntung (al hasyr 8-9 dan Al a'rof:157).
Apakah kalian kira Alloh keliru telah menurunkan ayat2 di atas, wahai syiah Dajjal?...
Ketika Alloh memerintah umat islam untuk berjihad, orang2 munafik ada yg mengajukan alasan bahwa dia tidak mampu (at taubah;42). Ada juga yang minta izin untuk tidak ikut perang ( At taubah; 43). Mereka menghina orang2 islam yg memberi sumbangan untuk biaya perang ( At taubah;79). Ada juga yg malah melarang temannya untuk mengikuti perang ( At taubah; 81).
Demikian lah sikap orang2 munafik saat itu yg tentunya berbeda dg sikap orang2 yg beriman. Ketika Rosululloh SAW memberi ultimatum agar umat islam memberikan sumbangan untuk biaya perang, maka para sahabat dari kaum muhajir dan ansor segera mengeluarkan harta mereka.
Abu bakar Ra menyumbang 4000 dirham. Umar ra menyumbang 1 uqiyyah. Ustman Ra menyumbang 10000 dinar dan 300 onta. Beliau juga membiayai 1/3 pasukan perang. Abdurrohman bin 'auf menyumbang 200 uqiyyah, Amir Al ansori menyumbang 90 wasak kurma.
Para wanita dari kaum muhajir dan ansor tidak mau kalah. Mereka mengumpulkan perhiasan2 mereka untuk di sumbangkan.
Melihat kekompakan ini, orang2 munafik merasa sakit hati. Mereka melancarkan aksinya. Jika ada orang yg menyumbang banyak, mk mereka akan berkata:" ah1 kamu hanya pamer saja". Ketika ada yg menyumbang sedikit, mereka berkata:" apa yg kamu berikan tidak sebanding dg kebutuhan pasukan".
(Al bidayah juz 3 hlm 277. Ibn Asakir Juz 1 hlm 105. Kanzul Umal Juz 1 hlm 249. Al haitsamy Juz 7 hlm 30. Al baihaqi Juz 9 hlm 33).
Meski demikian, masih ada sebagian munafik yg mengikutio perang. Tujuannya ad/ untuk mengintai kondisi pasukan islam. Jika pasukan islam mengalami kesusahan, mereka akan merasa senang dan mengabarkannya ke madinah.
At taubah: 50, artinya:
" Jika kamu di timpa oleh suatu bencana, mereka( orang munafik) berkata:" sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami untuk( tidak ikut perang)....".
Kabar tersebut di jadikan senjata oleh orang2 munafik yg tidak ikut perang dan orang2 yahudi untuk menfitnah orang2 beriman yg di madinah. Tujuannya agar iman mereka lemah. Lho kok bisa?...Begini, Alloh dan RosulNya selalu berjanji berupa kemenangan dan pertolongan. Ketika pasukan islam mengalami keburukan, orang2 munafik itu akan berkata:" lihatlah Muhammad telah menipu kalian".
Di samping itu, orang2 yahudi memiliki keyakinan bahwa seorang nabi tidak akan di kalahkan dalam peperangan. Jika pasukan islam mengalami keburukan, maka mereka akan berkata:" seandainya Muhammad seorang nabi, tentu hal ini tak akan terjadi".
Ketika pasukan islam kembali dari tabuk , ada 14 orang yg merencanakan pembunuhan atas diri Nabi SAW.
Mereka itu lah orang2 munafik. Mereka adalah pengikut Abdulloh bin Ubay bin Salul yang bekerja sama dengan yahudi. Namun Ironisnya orang2 syiah menuduh Abu bakar, Umar, Usman, Tholhah sebagi pelakunya. Lihat di sini.
http://www.facebook.com/messages/?action=read&tid=PgOt8ps%2FJ1CnBKtnYe336A#!/note.php?note_id=10150302686586123
Padahal seluruh dunia tau bahwa mereka termasuk golongan Muhajir. Di sebut Muhajir sebab mereka mengikuti baginda nabi hijroh. Artinya mereka ad/ pengikut Nabi SAW. Lho pengikut Nabi kok di sebut munafik?.
Perhatikan riwayat yg menceritakan kejadian itu.
وأخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضي الله عنه قال « رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم قافلاً من تبوك إلى المدينة ، حتى إذا كان ببعض الطريق مَكَرَ برسول الله صلى الله عليه وسلم من أصحابه فتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق ، فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه ، فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه وسلم أخبر خبرهم فقال : من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فإنه أوسع لكم ، وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم العقبة ، وأخذ الناس ببطن الوادي إلا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه وسلم لما سمعوا ذلك استعدوا وتلثموا وقد هموا بأمر عظيم ، وأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم حذيفة بن اليمان رضي الله عنه وعمار بن ياسر رضي الله عنه فمشيا معه شيئاً ، فأمر عمار أن يأخذ بزمام الناقة ، وأمر حذيفة بسوقها. فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه ، فغضب رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر حذيفة أن يردهم ، وأبصر حذيفة رضي الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه وسلم فرجع ومعه محجن ، فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضرباً بالمحجن ، وأبصر القوم وهم متلثمون لا يشعرون إنما ذلك فعل المسافر ، فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضي الله عنه وظنوا أن مكرهم قد ظهر عليه ، فأسرعوا حتى خالطوا الناس وأقبل حذيفة رضي الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فلما أدركه قال : اضرب الراحلة يا حذيفة وامشِ أنت يا عمار ، فأسرعوا حتى استووا بأعلاها ، فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه وسلم لحذيفة : هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحداً؟ قال حذيفة : عرفت راحلة فلان وفلان ، وقال : كانت ظلمة الليل وغشيتهم وهم متلثمون . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : هل علمتم ما كان شأنهم وما أرادوا؟ قالوا : لا والله يا رسول الله . . . ! قال : فإنهم مكروا ليسيروا معي حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها . قالوا : أفلا تأمر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم؟ قال : أكره أن يتحدث الناس ويقولوا : إن محمد وضع يده في أصحابه فسماهم لهما ، وقال : اكتماهم » .تفسير الدر المنثور لجلال الدين السيوطي باب74ج5ص117 وهو عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين. والسيوطي نسبة إلى أسيوط مدينة في صعيد مصر 849 – 911 هـ، 1445 – 1505م(المكتبة الشاملة)
Dalam riwayat tidak di sebutkan nama2 mereka. lalu dari mana orang2 syiah tahu kalo pelakunya ad/ orang muhajir?. Ngarang kah?
Al isro';36,artinya:
"dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya".
Mengikuti sesuatu yg kita tidak memiliki pemgetahuan tentangnya, berarti mengikuti perasangka.
Yunus 36, artinya:" sesungguhnya perasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran".
Alloh SWT berfirman, At taubah:88, artinya:
"akan tetapi rosul dan orang2 yg beriman bersama dia, mereka berjihad menggunakan harta dan jiwa mereka".
At taubah;44, artinya:
"orang2 yg berimn kepada Alloh dan hari kemudian, mereka tidak akan meminta izin kepadamu untuk tudak berjihad dg harta dan diri mereka".
Abu bakar, Umar, Ustman, Tholhah serta kaum muhajir dan ansor yg lainnya ad/ donatur yg menyumbangkan harta mereka untuk biaya pernag tersebut.
At taubah:71, artinya:
"mereka itu akan di beri rahmat oleh Alloh".
At taubah:117, artinya:
"sesungguhnya Alloh telah menerima Tobat Nabi, orang2 Muhajir dan Ansor yang mengikuti Nabi dalam masa sulit ( perang tabuk)".
ABU BAKAR , UMAR , UTSMAN , THALHAH DAN SA'AD BIN ABI WAQASH, mereka ad/ orang2 muhajir yg mengikuti perang tabuk. Mereka dalam pandangan Alloh ad/ orang2 yg beruntung (al hasyr 8-9 dan Al a'rof:157).
Apakah kalian kira Alloh keliru telah menurunkan ayat2 di atas, wahai syiah Dajjal?...
Subscribe to:
Posts (Atom)

